Filed under: insan merdeka
insan merdeka!,
Alhamdulillah, hari ini benar-benar adalah hari baru. Cuaca cerah, matahari terang sinarnya. Sungguh pagi hari yang segar, tenang tanpa ada bising deru angin. Awan putih kebiruan naungi bumi hijau tempatku berpijak. Burung-burung sawah yang terbang ceria berkejaran, dengan kicaunya sesekali hinggap di tepian jendela kaca, dengan tingkah polah alaminya, terasa menambah makna hidup menjadi ‘lebih hidup’.
Padahal tadi malam, cuaca boleh dikata tak bersahabat. Hujan deras disertai angin ribut, kilat dan guntur bersahut pekakkan telinga, gemetarkan hati. Ditambah listrik yang padam, klop lah sudah!.
Aku coba bertafakkur. Kata orang, tafakkur sejenak, bak ibadah sekian tahun. Semoga saja kudapat berkah itu. Tapi begitulah, saat kita bertafakkur, berpikir, merenung, ‘membaca’ segala apa yang ada di sekeliling kita, di luar, -terlebih lagi- yang di ‘dalam diri’, walau sejenak akan mampu membuat kita menjadi ‘diri baru’, ada beda dengan sebelumnya. Pun seperti itu pula nampaknya, dengan apa yang terjadi padaku sejak semalam, hingga pagi ini, saat dapat kurasakan kehadiran hari baru. Hari yang tak pernah sama dengan hari manapun sepanjang waktu.
Pagi ini kurasa, betapa Allah bukan hanya ‘harus’ disembah, tapi lebih tepatnya ‘pantas’ untuk disembah. Dia satu-satunya yang Maha Mampu Membalik Keadaan dalam sekejap. Dari gelap ke terang. Dari rasa takut ke aman.
Filed under: insan merdeka
insan merdeka,
Atas berkah kasih sayang Allah yang Maha Tinggi, saat ini kita kembali berada dalam bulan milik Rasul. Marilah kita jadikan bulan ini sebagai bulan istimewa guna mengenang kembali insan terkasih cahaya semesta itu. Kenangan yang akan membawa dan menuntun kita ke jalan yang telah beliau tunjukkan, yakni Islam, satu-satunya jalan lurus menujuNya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah tiada henti bagi beliau dan keluarga sucinya.
Dalam suasana sukacita, sembari mengambil spirit kelahiran Penghulu Insan Merdeka ini, insya Allah, blog insan merdeka ini akan aktif dan kembali hadir ke hadapan anda semua, untuk kemudian terus tumbuh, berubah dan terus berkembang menyempurna, menuju ridhaNya. Semoga !
Filed under: insan merdeka
insan merdeka!,
Mari terus belajar mengasah tajam pikiran dan meningkatkan kemampuan membaca dengan hati. Agar kita tahu, begitu banyak pesan Tuhan di kehidupan. Pesan unik yang seringkali bak lampu penerang jalan saat kita tak tahu arah kemana hendak menuju. Boleh jadi pesan-pesan yang bertebaran di atmosfir hidup kita itu merupakan kunci pembuka setiap ‘pintu’ yang tertutup dalam pandangan mata lahir, namun sebenarnya selalu terbuka dalam pandangan mata batin. Dan yakinlah, pintu-pintu terbuka ke jalan kebahagaiaan, memang tak pernah tertutup. Asal saja, mata hati kita cermat dan terlatih untuk melihatnya.
Pesan unik Tuhan adalah tanda-tanda yang bertebaran di segenap penjuru ruang dan waktu. Kadang berada dalam diri kita, kadang di alam luar. Semua ada sebagai wujud kasih sayang Tuhan untuk kita. Begitu banyaknya tanda-tanda itu, kita tak akan mampu menghitungnya. Karena kasih sayang Tuhan pun tiada batasnya.
Sungguh luar biasa pesan unik itu bekerja dalam kehidupan. Luar biasa dalam cara bagaimana dia datang. Setiap saat, tak pernah sama. Kadang berupa ‘suara’ keheningan, kadang mewujud dalam simbol-simbol dan rupa. Tak terikat waktu, pagi-siang-malam, bisa kapan saja kemunculannya. Terutama saat kita merasa pasrah total kepada Tuhan, saat kita ‘mentok’ dan hilang nyali, saat kita lelah berharap kepada yang lain selainNya, saat pintu-pintu ‘biasa’ tertutup, maka pintu ‘luar biasa’ itupun terbukalah.
Pesan unik Tuhan ini telah banyak mencengangkan manusia. Darinya kadang terlahir apa yang sebelumnya tak ada, bahkan apa yang tak terpikirkan. Namun ketika sebagian kita ada yang mampu ‘menangkapnya’, maka ia pun memberikan kita rasa takjub tiada kira.
Sampai disini, adakah sesuatu yang sulit untuk dipahami?. Sabar saja, bila ada kemauan ‘berlatih’ lama-lama anda akan terbiasa juga. Hingga akhirnya membuat anda ‘speechless’ dan ‘manggut-manggut’ seraya bergumam: oh begitu toh, maka itu sebagian dari tanda-tanda bahwa anda mulai bisa ‘masuk’ menyelam ke dunia ‘tanda dan pesan unik Tuhan’ itu. Saat itu, berbahagialah. Atau rasakan saja kebahagiaan dengan desir misteriusnya yang mengalir deras di sekujur tubuh. Tetaplah tenang, tahan diri untuk tak melonjak kegirangan. Bila anda mampu, maka otomatis kedua bibir anda yang semula terkatup akan mengembang perlahan. Dan bila tidak, mungkin saja anda akan tertawa terpingkal-pingkal sendiri. Ya, sendiri. Tak ada seorangpun, selain anda, yang tahu. Karena kebanyakan dari kita ‘terlena’, dan hanya sedikit saja yang senantiasa ‘terjaga’ tiap waktu.
Biar lebih mudah, mari saya antarkan anda ke ‘dunia lain’ itu. Dengan cara gampang, tinggal simak apa yang hendak saya share ke anda sebagian ‘cerita’ bertema pesan unik Tuhan, sebagaimana maksud judul tulisan ini. Siapa tahu, ini berguna buat kita semua.
Tahukah anda, bahwa dalam diri setiap anak kita, terbawa pesan unik Tuhan buat kita?. Karena kesibukan yang padat, mungkin selama ini anda tak punya waktu yang cukup untuk sekedar merenungkan, mencermati dan ‘melihat’ lebih dekat sang buah hati itu. Mengapa tak ada yang persis sama antara satu dengan yang lain?. Anda benar, karena mereka masing-masing, memang membawa pesan tersendiri. Bila sekarang anda sudah tahu, mulailah ‘perjalanan’ itu. Lambat laun anda akan menemukan banyak ‘jawaban’ mencengangkan. Sungguh indah, bila ‘rahasia tersembunyi’ itu telah terungkap. Bila benar terjadi, bersujudlah. Lantunkan syukur kepadaNya.
Filed under: insan merdeka
insan merdeka!,
Enam hari lagi, kita semua akan sampai pada HUT kemerdekaan yang ke-62. Sebagaimana kelaziman yang berlaku selama ini, pada hari itu, tepatnya pada pukul 10 pagi, dalam waktu kurang lebih 5 menit, di seantero negeri ini akan diperdengarkan sirine dan bebunyian dengan aneka tingkat kebisingan berbeda sebagai tanda pengingat sebuah peristiwa yang kita kenal sebagai detik-detik proklamasi.
Dalam hari yang sama, di seluruh stasiun tv kita aka ditayangkan sebuah seremonial tahunan berupa upacara kenegaraan, dengan acara spesial pengibaran bendera negara pada pagi hari, dan penurunan bendera pada sore harinya.
Pada saat seperti inilah, setahun sekali kita semua diingatkan bahwa sudah sekian lamanya kita raih apa yang disebut banyak orang sebagai kemerdekaan, bebas dari belenggu penjajahan. Para tokoh, hingga orang biasa, ikut serta aktif berbicara tentang nilai-nilai nasionalisme dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya. Bagi kita, apa maknanya semua itu?
Ingatan kita tentang kemuliaan hidup merdeka, bila ternyata hanya sehari, sekali dalam setahun, alangkah minimnya. Sedang hari-hari lain selebihnya, kita terbelenggu oleh bermacam kesibukan yang membuat kita lupa, bagaimana selayaknya nilai kemerdekaan mampu kita terapkan dalam menjalani kehidupan.
Setengah abad lebih bukan waktu yang sebentar. Bagi manusia, rentang waktu yang demikian panjang akan membawanya pada sebuah fase ‘senja’ bagi usianya. Dalam waktu yang tak lama, lewat titik setengah abad, rata-rata orang kita akan sampai pada batas akhir jatah hidup yang diberikan Tuhan. Dalam masa inilah biasanya tingkat ‘kematangan’ manusia ditampakkan oleh berlalunya perjalanan waktu. Apakah ia tergolong ‘awet muda’ ataukah tidak.
Kita semua biasanya akan merasa bangga jika suatu saat, pada usia lanjut, ada yang mengatakan bahwa kita ‘awet muda’. Bagi sebagian besar orang, awet muda tergolong sebuah kata yang enak didengar. Tentu saja karena setiap orang, sebaliknya tak pernah suka bila dirinya disebut sudah tua. Ada saja trik yang dipakai untuk menyamarkan ketuaan itu, misalnya dengan mengganti sebutan tua itu dengan istilah ‘matang’, ‘berumur’ dan sejenisnya. Namun dengan sebutan apapun, pada akhirnya ketuaan itu harus diakui dengan legawa tanpa menggantinya dengan istilah yang tampak manis. Sebaliknya kita harus introspeksi diri bila setiap kita ketemu dengan banyak orang yang kita kenal, kita dijuluki sebagai manusia yang awet muda. Bisa jadi, kata ini bermakna ganda. Sebuah kata bersayap yang bisa berarti bahwa orang yang awet muda itu tak ubahnya anak kecil yang tak pernah beranjak dewasa. Tak kunjung matang pikirnya, tak jua arif jiwanya.
Jadi, boleh saja kita merdeka sejak 62 tahun yang lalu. Namun, sudah merdekakah kita sepanjang waktu itu?
Bila masih banyak ‘rantai pengikat’ di tangan dan kaki kita, di hati dan pikiran kita dalam kehidupan yang kita jalani ini, sekali waktu bertanyalah kepada diri sendiri : nilai mulia kemerdekaan macam apa yang sudah kita raih?
Filed under: insan merdeka
insan merdeka!,
Kita semua tak ada yang tahu dengan pasti, kapan tepatnya kita akan kembali pulang kepadaNya. Disini, saat ini, kita semua menunggu sembari berbuat apapun yang kita mau. Dalam penantian ini, kita semua menghabiskan jatah waktu dengan ‘menanam’, karena tidak bisa tidak, kelak kita berharap untuk dapat ‘memanen’. Dunia layaknya bank tempat kita menyimpan, yang hanya akan memberi kita ijin untuk menarik dengan persis sejumlah nominal yang pernah kita tabung, tidak lebih, tidak pula kurang. Di dalam perjalanan panjang/pendek ini, kita mengukir jejak langkah kita, mematri baik-buruk di batu marmer kehidupan kita sendiri-sendiri. Apakah marmer kehidupan kita akan berkilau gemerlap dengan hiasan warna-warni bak lukisan maestro yang kental dengan nuansa keindahan dan estetika, ataukah marmer kehidupan yang kita punya sudah penuh dengan retakan, hampir pecah dan tak utuh lagi, sedang di permukaannya pun diselimuti dominasi warna gelap pekat, tak ubahnya warna alami batu kali?. Semua tergantung diri kita sendiri, sepenuhnya adalah tanggung jawab kita.
Sempatkanlah walau sesekali, meluangkan waktu untuk merenungkan kembali perjalanan yang telah berhasil kita tempuh hingga kini. Ibarat seorang peserta sebuah lomba pendakian perorangan ke puncak tertinggi sebuah gunung, dengan tebing curam dan terjal, paling tidak kita sudah dapat menghitung berapa kali kita terpeleset, terjun ‘melorot’ kembali ke titik awal. Atau paling tidak, kita juga tahu di titik manakah posisi kita berada saat ini, berapa langkah lagi jarak ke atas yang harus kita daki, dan yang tak kalah penting, kita mesti dapat mengukur seberapa fit kondisi stamina kita untuk mencapai titik puncak, batas terakhir dari pendakian kita.
Keberhasilan kita menaklukkan sekian banyak puncak tertinggi dalam kehidupan, pasti memberikan segudang pengalaman berharga kepada kita tentang berbagai hal. Keberhasilan tertunda [kata yang lebih disukai oleh insan merdeka dalam memaknai 'kegagalan'] yang seringkali kita alami, mengajarkan kepada kita berbagai formula yang lebih efektif dan efisien dalam menempuh berbagai tujuan di masa mendatang. Tidak salah kiranya bila ada yang mengatakan bahwa ketika kita mengalami apa yang biasa dipahami orang sebagai ‘kegagalan’, sesungguhnya pada saat itulah Tuhan mengajarkan dan sekaligus menunjukkan kepada kita rambu pengingat agar kita tahu dan sadar, bahwa sebenarnya kita sudah salah jalan. Karena bila kita sudah berada di jalan yang ‘benar’ dan ‘tepat’, dalam setiap menempuh segala tujuan, mestinya hanya keberhasilan pastilah yang akan kita raih.
Melukis jejak hidup kita, adalah sebuah perjuangan. Dalam prosesnya kita selayaknya lebih sering instropeksi dan mengevaluasi diri. Buatlah jejak hidup yang indah, bertanyalah kepada diri sendiri : dengan keberadaan kita, bagaimanakah warna dunia di sekeliling kita?. Jadilah penerang bagi mereka yang tengah berada dalam kubangan kegelapan. Perkuatlah selalu pancaran ‘sinar’ kita untuk menularkan cahaya ke berbagai titik penjuru. Asahlah kalbu kita agar mampu meredam gejolak panas aneka nafsu tak berguna. Jadikan jejak hidup kita, manis dirasa, indah untuk dikenang. Jadikan jejak hidup insan merdeka, sebagai penunjuk arah yang pasti, suluh yang menerangi, dan teladan yang utama bagi para penempuh jalan yang lain, yang masih hendak menyusul kemudian. Agar dengan itu semua, kita mampu tersenyum dan merasa lega karena telah menunaikan amanah agung berupa karunia hidup ini dengan sebaik-baiknya. Agar kita senantiasa berkesiapan optimal jika sewaktu-waktu Tuhan menghendaki kita kembali ke haribaanNya. Tentu saja dengan ridha dan diridhaiNya.
