insan merdeka


KM-MK [:Kagak Mau Mati Kutu]
Kamis, 31 Mei 2007, 3:20
Diarsipkan di bawah: Hidup

insan merdeka!,

Tak seorang manusia pun, hidup tanpa masalah. Tapi ada hal yang membuat mereka saling berbeda. Yakni  perbedaan pilihan ’sikap’ dan ‘tanggapan’ yang diambilnya pada saat masalah-masalah  itu datang. 

Bagi ‘insan merdeka’, masalah bukanlah masalah. Karena dia yakin bahwa setiap masalah pasti mengandung banyak hikmah, disamping tiap masalah itu sudah pasti disertai dengan jalan keluar oleh Sang Pencipta. Semua, semata ‘pelajaran’ berharga yang akan membuat diri kita kian ‘dewasa’.

Pada saat yang lain merasa putus-asa, insan merdeka -sebaliknya- malah punya prinsip utama KM-MK: Kagak Mau Mati Kutu. Prinsip dasar yang membuatnya terus belajar dan bertanya: setelah ini…. akan ada apa lagi? Sehingga ia tak pernah berkutat pada ‘mengapa semua ini terjadi’ tapi pada ‘bagaimana semua ini dapat diatasi’?



Ori Ekspresi
Kamis, 31 Mei 2007, 3:00
Diarsipkan di bawah: Hidup

ori-ekspresi.jpg 

insan merdeka!,

Saat paling menyenangkan bagi kita -para pencari nafkah-, bila tiba waktu untuk pulang. Kerja keras seharian, tak pernah benar-benar terasa. Kepenatan pun hilang seketika saat di depan pintu rumah kita menyambut dua bola mata dengan binar ceria. Pelukan kerinduan, wujud ketulusan kasih sayang, menghangatkan hati. Senyum dan tawa ‘buah hati’ kita tersayang, adalah karunia tak ternilai yang sulit dilukis dengan kata. ‘Ayah datang… ayah pulang…!’, seruan berulang ditingkah lonjak girang, terasa merdu di telinga kita. Sungguh hanya Tuhan yang mampu menciptakan suka-cita macam begini. Kekuatan ekspresi sejati ‘makhluk-makhluk kecil’ tanpa dosa itu, senantiasa menjalarkan desir hangat memacu spirit, kembali pulihkan puncak semangat.

Ori ekspresi buah hati kita adalah pelipur segala lara. Laksana resep alami yang tak mengandung bahan kimia, sama sekali tak mengandung efek samping negatif bagi kita.

Ori ekspresi, masihkah kita juga punya? Tanpa ‘muatan lain’ selain apa yang tampak saja di depan mata? Ataukah waktu dan peristiwa telah mengubah semuanya? Hingga hati berbeda dengan mulut dan mata?



3B minus ke 3B plus
Rabu, 30 Mei 2007, 10:00
Diarsipkan di bawah: Hidup

insan merdeka!,

Era 3G telah hadir di hadapan kita. 3G dimana-mana, kalau tidak bisa dikata ’semua’, boleh dibilang ‘lebih banyak’ yang sudah tahu tentangnya. Mereka yang sudah tahu 3G mengakui, bahwa 3G adalah produk ‘canggih’ dunia teknologi informasi dan komunikasi masa kini. Lebih jauh tentang 3G, biarlah para pakar dan khalayak dunia tek-infokom inilah yang membahasnya. Apalagi judul tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membincangkan masalah 3G, melainkan justru masalah lain yang tak ada hubungannya sama sekali dengan 3G itu, meskipun 3B sepintas mirip 3G. Jadi -biar sesuai judul- mari kita bahas 3B saja. 

Apa sih 3B?. Three Bi[baca:Tiga B] adalah produk yang dihasilkan oleh budaya manusia masa kini juga, meski memang tak banyak yang tahu. Tiga B adalah sebuah realita yang berkembang di jantung setiap kelompok masyarakat ‘atas’ maupun ‘bawah’. Tiga B adalah akronim dari:  ’Begitu Banyak Belenggu’.

Dalam masyarakat kita saat ini, bukankah memang Begitu Banyak Belenggu yang ada ? Begitu Banyak Belenggu yang mengikat setiap insan yang mencoba untuk ‘merdeka’. Begitu Banyak Belenggu yang kita sadari atau tidak kita sadari keberadaan dan pengaruhnya dalam hidup kita. Begitu Banyak Belenggu yang tak mudah kita sebutkan semua satu-persatu, sekali lagi karena saking Begitu Banyak-nya Belenggu itu.

Harta, tahta dan wanita [bagi pria]. Tahta, harta dan pria[bagi wanita], adalah beberapa hal yang selama ini lebih sering kita kenali, karena sering kita dengar dan disebut banyak orang. Hal-hal yang lebih familiar dikenal sebagai ‘godaan’ atau ‘tujuan’, tapi jarang dari kita yang mengenalnya sebagai ‘belenggu’. Padahal ketiganya layak disebut belenggu karena sifat ‘mengikat’ yang ada pada masing-masingnya. Daya ikat luar biasa yang terdapat pada ketiga hal tersebut akan mampu menarik setiap yang bersentuhan dengannya dalam sekejap mata. Hingga siapa-pun yang tanpa ’siaga’ telah terkecoh oleh ‘kemilau semu’-nya yang menipu, dalam sekejap pula dapat terjatuh ke posisi ‘terpasung’ selamanya, hingga hilanglah ‘kemerdekaan insani’ yang dimilikinya.

Begitu Banyak Belenggu dalam hidup kita. Semakin baik kita mampu mengenali Begitu Banyak Belenggu itu, maka -insya Allah- kita akan mampu ‘terbebas’ dengan mudah dari ‘jerat’-nya. Dalam kondisi inilah 3B[Begitu Banyak Belenggu] yang ‘minus’ akan menjadi 3B[Benar Benar Bebas] yang ‘plus’.

Memang tak mudah untuk menjadi ‘insan merdeka’. ‘Tidak mudah’, tapi bukan ‘Tidak mungkin’. Jadi sebelum kita tahu pasti, segala sesuatunya memang perlu dicoba.



Merdeka Tiap Saat, Sepanjang Waktu
Minggu, 27 Mei 2007, 5:20
Diarsipkan di bawah: Hidup

free1.jpg 

insan merdeka!,

Ada dua jenis kemerdekaan. Yang pertama ialah kemerdekaan ’semu’, dimana tiap insan ‘bebas’ melakukan ‘apa saja yang diinginkan dan dikehendakinya’; dan yang kedua ialah kemerdekaan ’sejati’, dimana tiap insan ‘bebas’ memilih ‘apa yang sepatutnya layak’ untuk dilakukan dalam kapasitasnya sebagai ‘insan’.

Waktu ’sehari’ yang dikaruniakan Tuhan buat kita persis sama lamanya. Hanya karena sejak dilahirkan masing-masing diri kita telah ‘ditugaskan’ untuk ‘mengemban amanat dan peran’ yang berbeda-lah, yang menjadikan banyak peristiwa dan pengalaman hidup kita menjadi unik, tak pernah persis sama antara satu dengan yang lain.

Meski begitu, kita diberi karunia lain yang tak kalah besarnya dibanding waktu. Yakni kebebasan untuk menentukan pilihan pada setiap kejadian yang datang silih berganti, merajut beragam peristiwa yang unik tersebut. Karena hidup, tiada lain adalah pilihan. Maka terserah kita, akan seperti apakah ‘lukisan’ yang akan kita buat dalam ‘kanvas kehidupan’ kita masing-masing. Akankah hidup kita ’sumringah’ dipenuhi dominasi warna-warna ‘cerah’, ataukah sebaliknya, ‘hitam-muram’,  dan bahkan juga mungkin ‘tanpa warna’.

Kita sepatutnya ‘rela’ untuk ‘berhitung’ secara ’sadar’, kemudian bertanya: dalam sehari, berapakah lamanya kita telah berhasil menjadi  ‘insan merdeka’?. Dari detik paling awal ketika kita ‘terbangun’, hingga detik terakhir kita kembali ‘tertidur’, berapakah total jumlah detik yang benar-benar kita nikmati sebagai ‘insan merdeka’?.

Secara sederhana, bila ‘kemerdekaan’ dapat pula kita artikan tiada lain sebagai suatu ‘kesempatan emas’ untuk melakukan hal-hal yang ’senantiasa lebih baik’, sudahkah kita merdeka tiap saat, sepanjang waktu?

Dalam kondisi ‘bebas memilih’, manakah porsi yang lebih banyak telah kita ambil antara ‘bebas melakukan apa yang kita inginkan’ dibanding ‘melakukan apa yang sepatutnya layak kita lakukan’  dalam predikat sebagai ‘insan’?.

Hanya diri kita sendiri-lah yang paling mampu untuk ‘jujur’ dalam menjawab. Dan apapun jawabannya, akan memancing kembali pertanyaan lanjutan: ke ‘arah’ manapun kita lebih ’condong’, ‘ditarik’ oleh dua ‘kutub’ pilihan tersebut, hal-hal apa sajakah yang telah menjadi penyebab utamanya?.

Peperangan antara ‘keinginan’ dan ‘kepatutan’ dalam melakukan banyak hal, seakan tiada pernah berujung dan berakhir. Dalam ‘kancah tempur’  inilah kita dapat mengukur diri, sekali lagi sudahkah kita merdeka setiap saat, di sepanjang waktu yang dikaruniakan buat kita?.

Sebelum masa ‘game-over’ tiba, selama ini sudah berapa banyakkah jenis ‘belenggu’ yang telah dengan ‘perkasa’  dan ‘tanpa ampun’  mampu  ‘menjerat’  kita?. Terus maju, dan bangkitlah! Karena nampaknya, sungguh sayang bila ‘perjuangan’ panjang ini sudah harus berakhir ‘tanpa kemenangan’, bukan?



Ketik:UnReg[spasi]AS
Minggu, 27 Mei 2007, 11:50
Diarsipkan di bawah: Hidup

sepasang-iblis.jpg 

insan merdeka!,

Inilah era baru. Bersiaplah menyambut ‘gempita’  kebangkitan ’suara-suara insaniah’ di seantero jagad raya. Saat semua sudah ‘muak’ dan ‘enggan’ untuk berkata ‘iya’ pada ‘ketidak-adilan’ dan ‘penindasan’ kaum ‘mustakbirin’ atas kaum ‘mustadh’afin’. Hati-hati yang ‘merdeka’ mengumandangkan ’satu suara’: tak lagi harus ada ‘hegemoni’ dan ‘pengangkangan’ sewenang-wenang atas ‘kemanusiaan’  di mana dan kapanpun.

Inilah era baru. Saat derita manusia tak berdosa harus sesegera mungkin diakhiri. Sudah waktunya segala bentuk ‘tirani’ ditumbangkan. Dan kekuasaan para ‘taghut’ yang ’super-jahat’ dilumpuhkan. Tiba masanya para ’shaleh’ mewarisi bumi, menebar damai ke segenap hati. Dan tak dapat dipungkiri, tanggung jawab ‘pembebasan’ ini adalah tugas seluruh ‘insan merdeka’  dimanapun mereka berada.

Inilah era baru. Saat ‘keterbiusan’ pada janji dan slogan-slogan palsu mulai pudar. Berganti kesadaran akan ‘kebenaran sejati’. Bak mentari siang hari, ‘teranglah’ segala kabut gelap yang bersumber dari masifnya propaganda selama ini. Semua sudah tahu: ternyata slogan demokrasi dan anti terorisme adalah buah pahit dari ’standar ganda’ kaum durjana.

Inilah era baru. Tiba waktunya seluruh manusia menyatukan langkah dan hati: lawan segala bentuk anti kemanusiaan!. Dan kembali ke fitrah menjadi ‘insan merdeka’, khalifah di bumi.

Inilah era baru. Jangan lagi ragu gerakkan jari, ketik:UnReg[spasi] AS dengan mantap sepenuh hati. Dan jangan biarkan hidup kita ‘terganggu’ atas kehadirannya kembali, di lain waktu.