insan merdeka


Hari ini Hari Baru
Sabtu, 30 Juni 2007, 6:25
Diarsipkan di bawah: Hidup

hari-baru.jpg 

insan merdeka!,

Hari ini tentu saja adalah hari baru yang sama sekali berbeda dengan hari-hari yang telah berlalu. Dan demikianlah setiap pergantian waktu : pagi – siang – malam, selalu hadir dengan warnanya masing-masing. Pendeknya, tiap detik tak ada yang pernah sama warnanya. Ini sebagaimana pendar langit di ufuk timur saat mentari terbit. Tiap hari berganti, selalu terlukis berbeda.

Kita harus senantiasa belajar dari ayat Tuhan yang hadir tiap waktu. Pergantian siang dan malam adalah pelajaran berharga bagi siapapun yang mau berpikir. Yang dengan kemurahan-Nya menuntun kita dalam mengambil sikap dan perilaku, sesuai dengan fitrah kita sebagai ‘insan merdeka’.

Setiap hari baru yang hadir, harus kita sikapi dengan cara baru yang selalu beda. Layaknya warna langit di ufuk yang tak pernah sama. Kadang gelap kadang cerah. Demikian pulalah tak ada sedih dan bahagia yang akan menetap. Karenanyalah kita harus senantiasa bertahan menjadi insan merdeka dalam arti yang sebenarnya. Tak terikat oleh apa dan siapa-pun selain Allah. Tidak terikat oleh beragam peristiwa dengan warna dan rasa yang berbeda-beda. Tak terikat oleh apapun yang menimpa kita. Karena tak ada bedanya sedih dan gembira. Semua tergantung bagaimana kita memaknai kehadirannya.

Kita bisa belajar pada keteguhan karang di laut. Pada debur ombak di pantai. Yang tak pernah lelah bertahan mencipta aneka irama seiring waktu yang terus berganti. Belajar pada ketegaran gunung-gunung. Keriangan burung-burung. Keteduhan hutan. Kesujukan mata air. Semuanya menjadi paduan indah di bumi. Mempersembahkan yang terbaik untuk kita.

Sebagai insan merdeka, begitulah kita seharusnya hadir diantara sesama. Makna kehadiran kita adalah melengkapi, bukan mengurangi apa yang sudah ada. Memberi bukan meminta. Dalam syukur dan kesabaran, kita harus mampu hadapi hari-hari yang ada dengan satu persepsi : hari ini hari baru. Cuma ‘hari ini’-lah hari milik kita yang sebenarnya, hari yang harus kita isi dengan hal-hal yang bermakna. Kita bukan pemilik hari ‘esok’ apalagi hari ‘kemarin’, karena keduanya serupa sifat ‘ke-tiada-an’~nya. Yang satu telah berlalu dan tak mungkin kembali, yang lain belum lagi hadir dan masih berselimut tanya dan misteri tak pasti.

Hanya dalam ‘hari ini’-lah kita dapat menentukan satu keputusan : menjalaninya dengan baik dan benar atau sebaliknya menyia-nyiakannya tanpa peduli. Hanya pada ‘hari ini’-lah kita harus menentukan pilihan : apakah kita akan menjadi ‘pemenang’ ataukah ‘pecundang’. Dua kesempatan dan dua pilihan yang masing-masingnya memiliki perimbangan peluang sama besar untuk diwujudkan.



Hanya Ada
Jumat, 29 Juni 2007, 9:14
Diarsipkan di bawah: Hidup

hanya-ada.jpg 

Ada bahasa yang tak mampu kuucap Tanpa huruf tuk rangkai kalimat dengan kata    Ada musik yang tak bisa kudendangkan Tanpa notasi tuk gubah simfoni dengan nada  Ada tanya yang tak terjawab Tanpa tanda tuk tuju arah dengan langkah                   Hanya terasa Hanya ada di dada Sendiri

Ada geramku dalam udara Ada airmata dalam malam-malam berlalu                            Ada darah di bumi jauhku Ada tawa di bumi dekatku Bukan  tawaku                                                                                                             

Ada beribu gagak berpesta Ada anyir menggenangi tanah koyak                                     Ada tubuh mungil tanpa dosa Lunglai diterjang badai                                                     Semua hanya terasa Hanya di dada Sepi

Hanya ada jiwa merdeka Meneriaklantangkan gema pembebasan                              Hanya ada perlawanan tiada henti Rebut tanah air kembali                                          Hanya dengan tubuh dan batu Tanpa senjata berpeluru                                                   Hanya dengan asa tiada akhir                                                                                        Kibarkan bendera nasib di genggam tangan Sendiri

Merdekalah Palestina Merdeka!



Satu Kata
Selasa, 26 Juni 2007, 10:10
Diarsipkan di bawah: Hidup

satu-kata.jpg 

Kun!  Bermula  Tapak langkah Dari Tiada Lalu Ada Dan Tiada Lagi                         Kembali Menyatu? Di sisi? Hidup? Abadi? Bersama? Dengan-Mu?

Ya Ilahi Betapa kurindu pada-Mu Namun kumalu segera bertemu Karena tak mampu kumaukan mau-Mu

Hanya kupunya satu kata Harapku Ampuniku Sementara waktu Hingga mampuku hilangkan maluku Pada-Mu



Menunggu
Sabtu, 23 Juni 2007, 8:50
Diarsipkan di bawah: Hidup

menunggu.jpg 

insan merdeka!,

Dibutuhkan waktu kurang lebih 9 bulan 10 hari, setiap bayi yang berada di kandungan akan terlahir. Dibutuhkan 7 hingga 10 tahun, seorang anak akan sampai ke masa baligh, di saat ‘taklif’ keberagamaan dikenakan baginya. Dibutuhkan hampir 25 hingga 30 tahun lamanya, sejak kita terlahir, sekedar untuk mumpuni bersikap ‘dewasa’, yakni suatu masa, pada saat kita mulai mampu menertawakan diri sendiri. Karena selama ini, baru disadari betapa ‘lucu’-nya kita telah menjalani hidup. Dan dibutuhkan hampir 2 minggu lamanya tulisan ini mampu dirampungkan, setelah 2 minggu yang lalu hanya judulnya saja yang sudah lebih dulu ada.

Hampir segala hal yang berproses ke arah sempurna, terikat oleh jalannya waktu. Dan manusia sebagai makhluk yang ditakdirkan untuk hidup dan terus berkembang, tak mungkin terhindar dari keadaan bernama : menunggu. Pendek kata, semua manusia pasti pernah merasakan dan mengalami sebuah proses penantian, yang tak lain adalah ‘menunggu’.

Untuk menjadi pohon menjulang, sebutir bibit perlu ditanam. Menunggu sekian lama untuk tumbuh dan berkembang meninggi. Perlu terus dipupuk dan disiram.

Untuk memetik buah yang ranum-manis, kita harus menunggu bunga berubah wujud. Dari mentah menjadi matang.

Untuk menyantap sepiring nasi, kita mesti menunggu beras matang dimasak. Dan sebelum beras didapat, kita pun mesti menunggu bulir padi dipanen, untuk kemudian menunggunya lagi selesai digiling. Setelah sebelumnya ditanam para petani.

Untuk pergi jauh ke negeri seberang, di tepian samudera kita menunggu kapal yang akan datang. Untuk dapat terbang melaju dalam pesawat, kita mesti menunggu dulu hingga punya tiket. Dan agar mampu membeli tiket kita harus menunggu punya uang.

Untuk diupah, kita mesti menunggu setelah lebih dulu bekerja. Untuk menjadi bos, biasanya kita harus sabar menunggu terlebih dulu belajar menjadi bawahan.

Untuk mendapatkan sederet gelar, tak bisa tidak, kita harus ‘telaten’ memulainya dari bangku TK nol kecil hingga Strata 1, 2, dan 3.

Menunggu adalah tugas yang harus kita jalani. Jadi jangan pernah merasa dan berkata bahwa menunggu adalah sesuatu yang sudah bosan kita lakukan. Dalam menunggu, banyak hal yang bisa kita lakukan. Dengan menunggu, banyak pula hal yang akan mampu kita rampungkan. Asal saja kita tahu, bagaimanakah cara menunggu.

Orang yang senantiasa berpikir positif, akan menunggu secara aktif. Dalam menunggu, ia akan menyiapkan berbagai hal untuk dilakukan. Karena ia sadar bahwa sesungguhnya menunggu itu meniscayakan sesuatu yang akan datang, maka ia akan bersiap sedia untuk melakukan penyambutan pada apa dan siapapun yang sedang ditunggu.

Seseorang yang akan kedatangan tamu istimewa, akan menggelar karpet indah untuk dilewati, kursi yang nyaman untuk diduduki, minuman segar dan hidangan lezat-pilihan untuk disuguhkan.

Dalam menunggu tiap hal, terdapat tiap konsekwensi yang berbeda pula.

Bagaimana kita yang muda menunggu tua?. Kita yang miskin menunggu kaya?. Kita yang kikir menunggu dermawan?. Kita yang ingkar menunggu taat?.

Bagaimana kita yang malas menunggu rajin?. Kita yang hidup menunggu mati?. Akankah menunggu, tanpa berbuat apapun?.

Bagaimana kita yang tak beramal baik akan menunggu pahala berlimpah?. Bagaimana kita yang tak pernah menanam benih akan pernah menunggu saat memanen buah?.

Untuk menunggu, diperlukan upaya nyata. Dalam menunggu, kita tak mungkin diam tak melakukan apa-apa.

Bila tidak, sungguh tak pantas kita menunggu.



Berkah Tersembunyi
Selasa, 5 Juni 2007, 7:40
Diarsipkan di bawah: Hidup

berkahhujan.jpg 

insan merdeka!,

Terkadang Tuhan sembunyikan matahari. Dia datangkan petir dan kilat. Dalam tangis kita bertanya kemanakah matahari menghilang. Padahal ternyata, Tuhan hendak memberi kita indahnya pelangi.. 

Hari yang semula cerah, dalam waktu singkat berubah mendung. Langit biru berbaur putih berubah hitam kelabu. Dan diantara gemercik gerimis yang perlahan mulai turun, sesekali terdengar gelegar guntur. Meski tanpa kilauan kilat menyambar namun suasana terasa kian merambah ke titik ‘mencekam’.

Saat hujan menderas, cuaca yang semula panas  seketika menjadi dingin. Bunyi rintiknya yang berirama tercurah ke atap rumah, mencipta rasa yang sulit diungkap dengan kata-kata. Dalam paduan cemas dan takut, terbersit teduh kepasrahan. Dalam gelisah, terlintas rasa syukur. Ah!. Hujan. Wujud peristiwa kehadiran yang kadang ditolak namun kadang pula ditunggu. Jadi bila memang sudah waktunya awan berarak diterbangkan angin, hingga terkumpul menjadi mendung menggumpal di seantero langit, siapa dapat mencegahnya mencurahkan titik-titik air hujan ke sekujur bumi?.

Bila hujan tiba, lebih sering kita lantunkan sumpah-serapah. Seakan hujan sudah begitu identik dengan gambaran suasana sedih dan muram. Segala hal yang semula OK berbalik jadi KO. Jarum penunjuk antusias beralih ke titik bad mood. Rencana rapi yang sudah tersusun, jadi buyar seketika. Manajemen waktu yang telah terurutkan oleh step-step kegiatan, jadi amburadul dalam sekejap. Apa yang semula kita mau lakukan, jadi tak mampu kita wujudkan. Semua, gara-gara hujan.

Di atas segala hal yang menyangkut hujan, mungkin perlu kita bertanya: apakah selamanya sikap kita sudah benar mesti begitu?

Cobalah keluar rasakan rintik air hujan yang turun, lurus deras seakan hendak menusuk bumi. Bila hati terbuka menerima, maka kan terasa kesegaran menjalari raga.

Tengadahlah dengan wajah ceria, maka kan terhirup rasa sejuk di raut muka. Menjalar pelan ke relung sukma. Desir halus menghanyutkan dari Sang Maha Lembut.

Bukalah tangan, unjukkan ke arah langit. Berdoalah dengan lisan dan kalbu. Maka kan terasa nikmat getar ilham dalam mengingat-Nya.

Dalam buaian hujan, kita sebenarnya kan mampu pulas tertidur dalam rangkaian mimpi-mimpi indah yang berterusan. Bila kita mampu mengenali nilai ‘rahmat’ yang dibawanya serta. Bukankah udara yang semula keruh oleh tumpukan polusi, kan tercerai berai oleh kesegaran alaminya?

Tataplah dekat-dekat permukaan setiap daun di pepohonan. Tidakkah bulir-bulir yang tercipta di permukaannya yang hijau, mampu menciptakan perpaduan indah tak terlukiskan? Bukankah semua, karya agung Sang Maha Indah semata?.

Di relung hujan, cobalah tulis berlarik puisi. Di permukaan tanah dan bebatuan, yang beradu dengan jernih air langit itu, cobalah ukirkan jejak. Segala arah mata angin kan berselimut kesejukan dari Sang Maha Kasih.

Berhadapan dengan berkah tiada kira ini, layakkah kiranya sumpah-serapah? Bila hujan tiba, inilah saat pintu langit terbuka. Segala lantun doa kan dengan mudah terkabulkan oleh-Nya. Haruskah saat baik ini berlalu diantara keluhan sia-sia?

Bila panas berlangsung tanpa henti. Bumi berputar, waktu berganti. Tanpa hujan sesekali, mampukah kita tegak berdiri?

Tuhan, terima kasih atas segala berkah tersembunyi yang demikian banyaknya telah Engkau kirimkan bagi kami di bumi. Maafkanlah bila kami tak pernah tahu pasti, untuk apa semua itu mesti ada dan senantiasa tak pernah henti hadir di tengah kami…

Segala macam berkah tersembunyi, seringkali terhijab dari kami. Karena memang hanya Engkau-lah Sang Maha Tahu Segalanya.