Diarsipkan di bawah: Kembali
insan merdeka!,
Bulan ini adalah bulan dukacita atas Syahadah Putri Terkasih Rasulullah saaw. Mengenang pribadi suci, Ibunda para Imam ini, atas nama Allah Al Jalil, semoga tulisan ini bermanfaat bagi setiap ‘insan merdeka’ yang berharap syafaat dari beliau as.
Tatapannya tajam memandang. Pohon-pohon kurma yang tinggi dengan daun-daunnya yang berwarna mulai tampak. Rumah-rumah Madinah yang akrab baginya mulai terlihat. Sejenak ia berhenti dan menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup aroma semerbak Rasul, masjid Nabi dan menara yang selama bertahun-tahun menjadi tempat dirinya mengumandangkan azan.
Dia mulai melangkah. Tak berapa lama, gerbang kota Madinah telah ia lewati. Dia berdiri mengibaskan pakaiannya untuk menghormati kota Nabi. Dia memandang, menatap sekelilingnya. Semua orang sibuk dengan pekerjaan keseharian mereka, hingga tak ada yang sadar akan kedatangannya.
Dia bergegas menuju perkampungan Bani Hasyim yang terdiri dari lorong-lorong sempit. Dia mulai mengingat kenangan lama. Dulu dia sering berdiri di lorong ini untuk mengiringi Nabi berjalan menuju masjid. Dan kali ini, dia kembali datang ke Madinah untuk menemui putri kesayangan Nabi, Fatimah.
Dia bergegas menuju rumah Ali. Padahal sebelumnya dia telah berjanji untuk tidak datang ke kota yang telah melupakan keluarga suci Nabi saaw itu.
Sesampainya di depan rumah Ali, dia mengucapkan salam, “Salam sejahtera atas Keluarga Nabi.”
Hasan dan Husein, dua putra Ali dan Fatimah yang mengenal suara itu segera berlari ke arah pintu. Mereka berseru “Bilal datang!”. Bilal memeluk dua cucu kesayangan Nabi itu. Tak mampu ia menahan derasnya airmata yang mengalir membasahi wajahnya. Hasan dan Husein teringat hari-hari sewaktu kakek mereka Rasulullah masih hidup. Sementara aroma kenabian kemabli dirasakan oleh Bilal.
Kepada keduanya Bilal menanyakan keadaan ibu mereka. Hasan dan Husein menggapit tangan muadzin Rasul itu untuk menemui ibunda mereka yang terbaring lemas karena sakit yang dideritanya. Sementara putri Rasul ini memang sedang menanti kedatangan Bilal. Sebab dalam mimpinya, Rasulullah, mengatakan bahwa Bilal akan datang menjenguk Fatimah.
Bilal mengucapkan salam. Dengan suara lirih dan nyaris tak terdengar Fatimah as menjawab, “Salam atasmu wahai muadzin ayahku, Rasulullah.”
Suara putri Nabi yang sangat lemah itu makin menyayat hati Bilal. Dia bertanya, “Wahai putri Nabi, apa yang terjadi sehingga Anda terbaring seperti ini?”. Tanpa menjawab pertanyaan itu, fatimah meminta Bilal untuk sekali lagi mengumandangkan azan di masjid Nabi. Beliau berkata, “Bilal, sebelum aku mati, aku ingin mengingat hari-hari indah bersama Rasulullah. Pergilah ke masjid dan kumandangkan azan. Aku ingin sekali lagi mendengar azanmu dan shalat dengan azan itu. Hanya sekali saja.”
Mendengar kata-kata itu Bilal tertegun dan tenggelam dalam perasaan sedihnya. Dia sadar bahwa putri Nabi yang terbaring di depannya itu tidak akan hidup lebih lama. Bilal pun bangkit untuk mengabulkan permintaan Fatimah as. Bergegas menuju masjid, anak-anak tangga dengan cepat ia lewati sampai ia tiba di menara masjid. Dari atas menara dia kembali teringat hari-hari saat ia menjadi muadzin Rasul dan saat-saat ketika dia dari atas menara itu menyaksikan Rasul berwudhu.
Namun kali ini sungguh berbeda. Kali ini, keberadaannya di atas menara masjid hanya demi mengabulkan permintaan putri Nabi.
Bilal mulai menarik nafas dan, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Madinah membisu. Suara Bilal membahana di seluruh penjuru kota. Suara itu sangat akrab di telinga warga Madinah. Bilal melanjutkan, “Asyhadu an lailaha illallah.” Ya , itu suara Bilal. Tanpa sadar mereka meninggalkan pekerjaan masing-masing menuju ke masjid Nabi.
Bilal melanjutkan, “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.” Tiang-tiang masjid bergetar saat nama Rasul disebut. Mereka yang memandang Bilal, si muazin Nabi, teringat pada hari-hari yang telah lalu dan tak mampu menahan jatuhnya butiran bening dari kelopak mata mereka.
Tapi di rumah Ali, Fatimah tidak dapat menahan diri saat mendengar nama ayahnya disebut, dan jatuh pingsan. Serta merta Hasan dan Husein berlari menuju masjid dan meminta Bilal menghentikan azan. Mereka berkata,” Bilal, demi Allah, jangan kau teruskan azanmu Ibuku tak mampu menahan kesedihannya lagi.” Bilal pun menghentikan azannya dan turun dari menara masjid Nabi. Tak ada kata-kata yang bisa dia ucapkan, tenggorokannya terasa begitu sesak. Direngkuh dan dipeluknya kedua cucu kesayangan Nabi itu, dengan airmata deras yang membasahi pipinya.
Sebelum ajal datang menjemputnya, Fatimah Az Zahra as menghadap kiblat setelah sebelumnya berwudhu. Beliau mengangkat tangan dan berdoa,”Ya Allah, jadikanlah kematian bagai kekasih yang aku nantikan, curahkanlah rahmat dan inayah-Mu kepadaku. Tempatkanlah ruhku di tengah arwah orang-orang yang suci dan jasadku di sisi jasad-jasad mulia. Ya Allah, masukkanlah amalanku ke dalam amalan-amalan yang Engkau terima.”
Tanggal 3 Jumadi Tsani tahun 11 Hijriyah, Fatimah Zahra putri kesayangan Nabi menutup mata untuk selamanya. Beliau wafat meninggalkan pelajaran-pelajaran yang berharga bagi kemanusiaan. Dan di bulan ini, kami mengucapkan belasungkawa kepada para pecinta keluarga suci Rasul.
Rasul pernah menyifati putrinya, Fatimah as dengan sabdanya, “Allah telah memenuhi hati dan seluruh anggota tubuh Fatimah dengan keimanan dan keyakinan.”
Kepada putrinya itu, beliau pernah bersabda, “Fatimah, Allah telah memilihmu dan menghiasimu dengan makrifat dan pengetahuan. Dia juga telah membersihkanmu dan memuliakanmu di atas wanita seluruh jagat.”
Kecintaan Rasulullah saaw kepada Fatimah Zahra as merupakan satu hal khusus yang layak untuk dipelajari dari kehidupan beliau. Di saat bangsa Arab menganggap anak perempuan sebagai pembawa sial dan kehinaan, Rsul memuliakan dan menghormati putrinya sedemikian besar. Selain itu Rasulullah saaw biasa memuji seseorang yang memiliki keutamaan. Dengan kata lain, pujian Rasul kepada Fatimah adalah karena beliau menyaksikan kemuliaan pada diri putrinya itu.
Nabi saaw tahu akan apa yang bakal terjadi sepeninggalnya kelak. Karena itu, sejak dini beliau telah mengenalkan kemuliaan dan keagungan Fatimah kepada umatnya, supaya kelak mereka tidak bisa beralasan tidak mengenal keutamaan penghulu wanita sejagad itu.
Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada Rasul, “Mengapa Anda tidak memperlakukan anak-anak Anda yang lain seperti Fatimah?” Rasul menjawab, “Engkau tidak mengenal Fatimah. Aku mencium bau surga pada diri Fatimah. Engkau tidak tahu bahwa keridhaan Allah ada pada keridhaan Fatimah dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan Fatimah.” Kesempurnaan manusia itu tidak mengenal jenis/gender. Kesempurnaan itu adalah sebuah anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya untuk dapat mengenal dirinya lebih dalam. Fatimah adalah contoh nyata dari sebuah kesempurnaan. Dengan mengikuti dan meneladaninya, kesuksesan dan kebahagiaan hakiki yang menghantarkan pada kesempurnaan akan bisa digapai. Fatimah adalah wanita yang banyak menimba ilmu, makrifat dan hikmah hakiki.
Keluasan ilmunya tampak sekali dalam khutbah yang beliau sampaikan di masjid Nabi, di hadapan para sahabat. Dalam khutbah itu, Fatimah as menjelaskan bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dan masyarakat adalah dengan memegang teguh agama dan patuh kepada perintah Allah.
Beliau yang mengetahui psikologi masyarakatnya menerangkan berbagai kekurangan yang ada di tengah mereka. Dalam khutbah itu, Fatimah as membawakan berbagai ayat suci Al-Qur’an dan menjelaskan tafsirannya. Peristiwa yang terjadi di masa lalu, sejarah umat-umat terdahulu yang layak dijadikan pelajaran dan bahan peringatan, diungkapkannya.
Dalam khutbah tersebut Fatimah sebagai seorang hamba yang saleh dan arif yang hakiki, menjelaskan kecintaannya kepada Sang Maha Pencipta.
Fatimah Zahra as, adalah wanita yang mengenal betul kondisi di tengah masyarakat. Beliau sadar akan adanya makar dan tipu daya musuh-musuh Islam. Hal itulah yang kemudian beliau ungkapkan dalam khutbahnya. Singkatnya, Fatimah as sebagai seorang yang mengetahui seluk-beluk politik dan sadar akan kondisi di zamannya, menerangkan kepada semua orang bahwa Islam adalah agama terakhir Tuhan dan syariat yang paling sempurna.
Beliau juga menjelaskan bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah dengan mengikuti jejak AhlulBait as.
Berikut ini adalah sebagian dari khutbah Sayyidah Fatimah Zahra as di masjid Nab:
“Rasulullah diutus saat seluruh bangsa terpecah-pecah. Mereka menyembah berhala. Meski mengenal Tuhan, mereka mengingkarinya.
Dengan perantara Muhammad, Allah menyingkap tabir syirik dan kekafiran. Dia membersihkan kotoran dari hati, dan Dia berikan cahaya di mata. Muhammad dengan cahaya petunjuk bangkit di tengah umat untuk menyelamatkan mereka dari kesesatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan ke cahaya benderang. Ia menggiring umat ke arah agama yang kuat dan mengajak mereka pada kebenaran.
Riwayat yang masyhur menyebutkan bahwa Fatimah Zahra as, hanya sempat mengenyam kehidupan yang singkat. Beliau wafat pada usianya yang sangat belia: 18 tahun.
Meski singkat, kehidupan beliau banyak mengandung pelajaran berharga. Kehidupan putri Rasul ini, laksana permata indah yang memancarkan cahaya.
Pada kesempatan ini, kami ingin mengajak Anda untuk melihat sekelumit dari kepribadian beliau yang agung, untuk dijadikan pedoman, khususnya bagi kaum perempuan.
Tak diragukan lagi, sebagian besar problem yang dihadapi manusia adalah karena kelalaiannya akan hakikat wujud kemanusiaannya, sehingga dia terjebak dalam tipuan dunia. Sebaliknya, manusia bisa mendekatkan diri kepada Tuhan saat dia mengenali dirinya dan mengetahui tugas yangharus ia lakukan dan pertanggungjawabkan kepada Allah, Sang Pencipta alam kehidupan.
Fatimah Zahra as, adalah seorang figur yang unggul dalam keutamaan ini. Dalam doanya, beliau sering berucap, “Ya Allah, kecilkanlah jiwaku di mataku dan tampakkanlah keagungan-Mu kepadaku. Ya Allah, sibukkanlah aku dengan tugas yang aku pikul saat Engkau menciptakanku, dan jangan sibukkan aku dengan hal-hal yang lain.”
Keikhlasan dalam beramal adalah jembatan menuju keselamatan dan keberuntungan. Manusia yang memiliki jiwa keikhlasan akan terbebas dari seluruh belenggu hawa nafsu dan akan sampai ke tahap penghambaan murni. Keikhlasan akan memberikan keindahan, kebaikan, dan kejujuran kepada seseorang. Contoh terbaik dalam hal ini dapat ditemukan pada pribadi agung Fatimah Zahra as.
Seseorang pernah bertanya kepada Imam Mahdi as, “Siapakah diantara putri-putri Nabi yang lebih utama dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi?” Beliau menjawab, “Fatimah”. Dia bertanya lagi, “Bagaimana Anda menyebut Fatimah sebagai yang lebih utama padahal beliau hanya hidup singkat dan tidak lama bersama Nabi?” Beliau menjawab, “Allah memberikan keutamaan dan kemuliaan ini kepada Fatimah karena keikhlasan dan ketulusan hatinya.”
Sayyidah Fatimah dalam munajatnya sering mengungkapkan kata-kata demikian, “Ya Allah aku bersumpah dengan ilmu ghaib yang Engkau miliki dan kemampuan penciptaan-Mu. Berilah aku keikhlasan. Aku ingin diriku tetap tunduk dan menghamba kepada-Mu di kala senang dan susah. Saat kemiskinan mengusikku atau kekayaan datang kepadaku, aku tetap berharap kepada-Mu. Hanya dari-Mu aku memohon kenikmatan tak berujung dan kelapangan pandangan yang tak berakhir dengan kegelapan. Ya Allah, hiasilah aku dengan iman dan masukkanlah aku ke dalam golongan mereka yang mendapatkan petunjuk.”
Kecintaan Fatimah as kepada Tuhan disebut oleh Rasulullah sebagai buah dari keimanannya yang tulus. Beliau bersabda, “Keimanan kepada Allah telah merasuk ke kalbu Fatimah sedemikian dalam, sehingga membuatnya tenggelam dalam ibadah dan melupakan segalanya.”
Manusia yang mengenal Tuhannya akan menghiasi perilaku dan tutur katanya dengan akhlak yang terpuji. Asma’, salah seorang wanita yang dekat dengan Sayyidah Fatimah as mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorangpun wanita yang lebih santun dari Fatimah.”
Fatimah belajar kesantunan dari Dzat yang Maha Benar. Hanya orang yang terdidik dengan tuntunan Ilahi-lah yang bisa memiliki perilaku dan kesantunan yang suci.
Ketika Allah swt melalui firman-Nya memerintahkan umat untuk tidak memanggil Rasul dengan namanya, Fatimah lantas memanggil ayahnya dengan sebutan Rasulullah. Kepadanya nabi bersabda, “Fatimah, ayat suci ini tidak mencakup dirimu.”
Dalam kehidupan rumah tangganya, putri Nabi ini selalu menjaga etika dan akhlak. Kehidupan Ali dan fatimah yang saling menjaga kesantunan ini layak menjadi teladan bagi semua. Kasih sayang dan kelemah-lembutan Fatimah as diakui oleh semua orang yang hidup sezaman dengannya.
Dalam sejarah disebutkan bahwa kaum fakir miskin dan mereka yang memiliki hajat, akan datang ke rumah Fatimah ketika semua jalan yang bisa diharapkan membantu mengatasi persoalan mereka telah tertutup. Fatimah tidak pernah menolak permintaan mereka, padahal kehidupannya sendiri serba kekurangan.
Poin penting lain yang dapat dipelajari dari kehidupan dan kepribadian penghulu wanita sejagat ini adalah sikap tanggap dan peduli yang ditunjukkan beliau terhadap masalah rumah tangga, pendidikan dan masalah sosial.
Banyak orang yang berprasangka bahwa keimanan dan penghambaan yang tulus kepada Allah akan menghalangi orang untuk berkecimpung dalam urusan dunia. Kehidupan Sayyidah Fatimah as mengajarkan kepada semua orang akan hal yang berbeda dengan anggapan itu. Dunia di mata beliau adalah tempat kehidupan, meski demikian hal itu tidak berarti harus dikesampingkan. Beliau menegaskan bahwa dunia laksana anak tangga untuk menuju ke puncak kesempurnaan, dengan syarat hati tidak tertawan oleh tipuannya.
Fatimah as berkata, “Ya Allah, perbaikilah duniaku tempat bergantungnya kehidupanku. Perbaikilah kondisi akhiratku, karena kesanalah aku akan kembali. Panjangkanlah umurku selagi aku masih bisa berharap kebaikan dan berkah dari dunia ini..”
Saat detik-detik akhir kehidupannya tiba, duka dan derita terasa amat berat untuk dipikul oleh putri tercinta Nabi ini. Meski demikian, dengan lemah lembut Fatimah bersimpuh di hadapan Sang maha Pencipta mengadukan keadaannya. Asma’ berkata, Saya menyaksikan saat itu Fatimah as mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan perantara kemuliaan Nabi dan kecintaannya kepadaku. Aku memohon kepada-Mu dengan nama Ali dan kesedihannya atas kepergianku. Aku memohon kepada-Mu dengan perantaraan Hasan dan Husein serta derita mereka yang aku rasakan. Aku memohon kepada-Mu atas nama putri-putriku dan kesedihan mereka. Aku mohon kasihilah umat ayahku yang berdosa. Ampunilah dosa-dosa mereka. Masukkanlah mereka ke dalam surga-Mu. Sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha Pengasih dari semua pengasih.”
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

manakjubkan
Komentar oleh finch Rabu, 26 November 2008 @ 10:59ya Allah semoga lebih banyak lagi wanita muslim di negeri kami terinspirasi oleh pribadi agung putri manusia teladan ini, semoga sifat-sifat kepribadiannya ditiru oleh guru-guru wanita di Indonesia ini. Amin ya Allah
Komentar oleh suprapto Sabtu, 12 Desember 2009 @ 1:38