Diarsipkan di bawah: Hidup
insan merdeka!,
Hari ini tentu saja adalah hari baru yang sama sekali berbeda dengan hari-hari yang telah berlalu. Dan demikianlah setiap pergantian waktu : pagi – siang – malam, selalu hadir dengan warnanya masing-masing. Pendeknya, tiap detik tak ada yang pernah sama warnanya. Ini sebagaimana pendar langit di ufuk timur saat mentari terbit. Tiap hari berganti, selalu terlukis berbeda.
Kita harus senantiasa belajar dari ayat Tuhan yang hadir tiap waktu. Pergantian siang dan malam adalah pelajaran berharga bagi siapapun yang mau berpikir. Yang dengan kemurahan-Nya menuntun kita dalam mengambil sikap dan perilaku, sesuai dengan fitrah kita sebagai ‘insan merdeka’.
Setiap hari baru yang hadir, harus kita sikapi dengan cara baru yang selalu beda. Layaknya warna langit di ufuk yang tak pernah sama. Kadang gelap kadang cerah. Demikian pulalah tak ada sedih dan bahagia yang akan menetap. Karenanyalah kita harus senantiasa bertahan menjadi insan merdeka dalam arti yang sebenarnya. Tak terikat oleh apa dan siapa-pun selain Allah. Tidak terikat oleh beragam peristiwa dengan warna dan rasa yang berbeda-beda. Tak terikat oleh apapun yang menimpa kita. Karena tak ada bedanya sedih dan gembira. Semua tergantung bagaimana kita memaknai kehadirannya.
Kita bisa belajar pada keteguhan karang di laut. Pada debur ombak di pantai. Yang tak pernah lelah bertahan mencipta aneka irama seiring waktu yang terus berganti. Belajar pada ketegaran gunung-gunung. Keriangan burung-burung. Keteduhan hutan. Kesujukan mata air. Semuanya menjadi paduan indah di bumi. Mempersembahkan yang terbaik untuk kita.
Sebagai insan merdeka, begitulah kita seharusnya hadir diantara sesama. Makna kehadiran kita adalah melengkapi, bukan mengurangi apa yang sudah ada. Memberi bukan meminta. Dalam syukur dan kesabaran, kita harus mampu hadapi hari-hari yang ada dengan satu persepsi : hari ini hari baru. Cuma ‘hari ini’-lah hari milik kita yang sebenarnya, hari yang harus kita isi dengan hal-hal yang bermakna. Kita bukan pemilik hari ‘esok’ apalagi hari ‘kemarin’, karena keduanya serupa sifat ‘ke-tiada-an’~nya. Yang satu telah berlalu dan tak mungkin kembali, yang lain belum lagi hadir dan masih berselimut tanya dan misteri tak pasti.
Hanya dalam ‘hari ini’-lah kita dapat menentukan satu keputusan : menjalaninya dengan baik dan benar atau sebaliknya menyia-nyiakannya tanpa peduli. Hanya pada ‘hari ini’-lah kita harus menentukan pilihan : apakah kita akan menjadi ‘pemenang’ ataukah ‘pecundang’. Dua kesempatan dan dua pilihan yang masing-masingnya memiliki perimbangan peluang sama besar untuk diwujudkan.
No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
