insan merdeka


Hidup Merdeka Diantara Tangis dan Tawa
Minggu, 29 Juli 2007, 6:18
Diarsipkan di bawah: Hidup

tangis-tawa.jpg 

insan merdeka!,

Tanyakan kepada semua yang pernah menjadi bayi pada mulanya. Walau mereka tak tahu dan sadar dengan pasti, tentu mereka semua pernah menangis saat pertama hadir ke dunia. Dengan tangis itu, mereka ‘bicara’. Di tangis itu, hilang semua perbedaan bahasa yang ada pada manusia. Di semua tempat, bahkan hingga kini, tangisan adalah salah satu bahasa universal yang unik dan ‘mandiri’, tak pernah berubah, dan tetap ‘original’. Demikian pula tak ubahnya tangis, manusia seluruhnya, pasti pernah tertawa. Dan tawapun adalah ‘bahasa’ universal yang dengan tegas menghilangkan perbedaan ras dan etnis, demikian pula negara dan bangsa. Tangis dan tawa adalah dua bahasa asli manusia dari dulu hingga kini. Dengannya manusia dapat hidup merdeka, dari permusuhan dan peperangan. Dengannya seharusnya manusia sadar, bahwa mereka semua berasal dari ‘pokok pohon’ yang satu.

Dengan kesadaran yang sama pula selayaknya manusia terhindar dari rasa enggan akan datangnya tangis dan tawa dalam hidup, yang silih berganti mengiringi setiap kejadian yang dialaminya. Dengan itu manusia selayaknya tetap mampu bertahan menjadi insan merdeka, membiarkan tangis dan tawa berlalu, sebagai ketentuan yang memang harus berlaku, demi kemaslahatan dirinya sebagai makhluk yang harus senantiasa terus menyempurna. Tangis dan tawa, adalah penempa dan pendorong manusia pada derajat merdeka yang sesungguhnya. Jadi, tak perlu takut, tetaplah bertahan. HIduplah merdeka diantara tangis dan tawa.



Hatimu : Samudera – Alam Raya
Minggu, 29 Juli 2007, 8:22
Diarsipkan di bawah: insan merdeka

alam-raya.jpg

insan merdeka!,

Belajar bersama menyelam ke dalam hati kita masing-masing, adalah sesuatu yang indah dan -sekaligus- perlu. Mengapa?

Karena -siapa tahu- di sanalah diri kita yang sebenarnya berada. Bukan di wajah, dengan mata biru, alis lengkung tebal, hidung mancung dan bibir indah. Diri kita bukanlah di tubuh atletis, dengan dada bidang dan perut ala kontes l-men. Bukan pula di betis berisi, rambut kemilau terurai. Pendeknya, diri kita itu bukan semata apa yang bisa dilihat dan dinikmati mata.

Tidakkah kita sama-sama setuju?



Begitu Singkat Masanya
Jumat, 20 Juli 2007, 11:32
Diarsipkan di bawah: insan merdeka

bulan-sabit.jpg 

insan merdeka!,

Malam cerah, meski tanpa banyak bintang. Bulan sabit sempurna di ketinggian langit nampak berwarna putih keperakan. Dalam hening, cahaya teduhnya melengkapi senyap suasana. Ya Allah, kini kita hanya berdua. Dalam kesendirianku, aku bersama-Mu, tak pernah ‘benar-benar sendiri’.

Udara yang dingin menusuk, memaksaku segera masuk, tinggalkan pelataran yang lengang. Bersiap ‘menghadap-Nya’. Entah berapa lama tepatnya. Namun hitunglah lama ‘mi’raj ruhani’ tanpa wirid dan do’a panjang setelahnya. Rasanya tak sampai 15 menit lamanya.

Saat kembali ke luar, semua tak nampak sama lagi. Ada sesuatu yang tadi terlihat, kini sudah tak nampak lagi. Bulan sabit itu, entah kemana perginya. Dalam tempo sesingkat itu, bumi [di belahan tempatku berpijak] kehilangan cahaya teduhnya.

Dalam diam, hati bergumam : adakah yang berlangsung lama di dunia kita?. Segalanya terjadi dalam hitungan pendek. Jarak antara ada-tiada, datang dan pergi, begitu singkat masanya. Tak ubahnya tidur, yang tak terasa. Tiba-tiba kita terbangun, melihat segalanya sudah tak sama lagi adanya.

Dalam masa sesingkat ini, apa yang sudah kita lakukan?. Dengan cara apa kita tandai ‘kehadiran’ unik kita di bumi manusia ini?

Janganlah remehkan waktu yang berlalu dengan cepat. Bila tak sekalipun terpikir oleh kita untuk senantiasa hidup ‘berguna’, maka jangan salahkan bila di ‘dunia lain’ kelak, kita akan kebingungan arah, terlantar dalam derita, tanpa punya ‘rumah’ yang layak untuk kita tempati, dalam masa yang tentu saja tak sesingkat kini.



Ambillah Peran Jadilah Berguna
Rabu, 18 Juli 2007, 6:56
Diarsipkan di bawah: Hidup

peran-aktif.jpg

insan merdeka!,

Dalam pergaulan masyarakat, banyak tugas yang harus dipikul oleh banyak orang. Masing-masing memainkan peran sesuai dengan kelebihan dan kekurangan dirinya. Hal inilah yang telah merangkaikan suatu ikatan alamiah diantara kita dengan sesama. Dan memang untuk tujuan saling memberi dan menerima macam itulah, kita diciptakan Tuhan.

Sebagai manusia yang berdiam di bumi, kita dikaruniai amanah waktu dengan rentang yang sama. Sehari-semalam, 24 jam lamanya. Yang menjadikan kita berbeda dengan yang lain adalah bergantung bagaimana kita mengisi waktu milik kita itu, dengan berdiam dirikah atau berbuat sesuatu. Meski harus kita ingat pula, yang terpenting bukanlah berapa banyaknya kita telah berbuat, melainkan seberapa besarkah manfaatnya apa yang telah kita lakukan itu bagi kemanusiaan. Dalam hal ini kita adalah penyumbang-penyumbang unjuk kerja bagi kehidupan sesama.

Kehidupan akan terasa lebih berharga bila kita mampu mengambil peran tertentu sesuai dengan kemampuan kita. Karena dengan begitu, kita menjadi berguna bagi sesama kita, baik yang dekat maupun jauh. Dengan peran unik kita masing-masing, warna dunia menjadi beragam.

Jadi, untuk apa berpangku tangan?. Bila banyak tugas memanggil, sambutlah dengan suka-cita. Ibarat kita berinvestasi dalam kehidupan, maka kelak kita akan dapat memetik manfaat dan buah dari setiap amalan-amalan kita senyampang hidup. Apa yang dapat kita berikan, sesungguhnya adalah apa yang bisa kita simpan. Tak ada yang sia-sia, semua layaknya tabungan bagi kita, yang kelak kemudian hari akan sangat berarti bagi kita.



Dan Kekuatan Baru itupun Muncullah
Selasa, 17 Juli 2007, 8:32
Diarsipkan di bawah: Hidup

kekuatanbaru.jpg 

insan merdeka!, 

Di tengah hiruk-pikuk perang pengaruh, dalam naik-turunnya gelombang peran negara dan bangsa-bangsa di percaturan dunia, sebagai penyeimbang kekuatan Barat [diwakili AS + Eropa] yang selama ini dominan, dari dunia ketiga yang ‘tertindas’, dari Timur, muncullah kekuatan baru bernama Republik Islam Iran.

Ini seakan sudah kehendak Sang Creator. Kehendak Dia yang disembah di setiap waktu dan zaman. Kehendak yang sudah tertulis rapi dalam Kitab Abadi-Nya. Menjelma menjadi kenyataan yang sama sekali sudah tak mungkin untuk dibantah.

Terbukti, segala upaya musuh untuk mendiskreditkan kekuatan baru ini, dari segala penjuru, dengan berbagai macam trik dan strategi, ternyata tumpul tak membekaskan pengaruh berarti. Kekuatan baru ini, dengan ruh spesifiknya, telah menghipnotis dan membuat terperangah para musuh. Bagaimana tidak, bukan dengan dukungan mereka menjadi kian kuat, malah sebaliknya, dengan boikot dan gangguan konspirasi jahat yang tiada henti, kekuatan baru ini kian banyak meraih puncak prestasi. Sebuah realita, namun bak keajaiban, tak siapapun sebelumnya pernah menyangka akan bisa terjadi .

Inikah sebuah tanda zaman yang mengawali bangkitnya kekuatan Putih atas Hitam?. Kita dapati dalam beberapa kurun waktu terakhir, berbondong-bondong kafilah manusia kembali pada nilai-nilai insaniyahnya, menanggalkan sisi kebinatangannya yang parah oleh pengaruh budaya sampah, budaya yang tampak wah, namun sejatinya serba fana dan tak bernilai.

Kemunculan kekuatan baru ini adalah kabar gembira bagi para ‘insan merdeka’, di manapun mereka berada. Ini adalah era kebangkitan kita bersama, tanpa peduli sekat jarak, batas geografis, ranah perbedaan paham dan ideologi. Inilah kemenangan bersama kaum tertindas atas kekuatan tirani yang selama ini membelenggu mereka.

Dan saat kekuatan baru itu muncul kini, mungkin sudah saatnya, mereka yang beriman, kaum tertindas, mengambil alih kepemimpinan atas bumi. Saat dominasi Barat, dalam hitungan mundur sedang menuju keruntuhan totalnya, detik demi detik, tak ubahnya bom waktu.