Diarsipkan di bawah: Hidup
insan merdeka!,
Telah sekian lama ranah teknologi informasi dan komunikasi, khususnya bidang media massa dan elektronik didominasi oleh Barat (terutama AS yang dikenal sebagai sekutu abadi rezim Zionis Israel) mengakibatkan setting pemberitaan tentang peristiwa apapun yang tengah terjadi di dunia, seakan menjadi monopoli sepihak media-media raksasa yang mereka kuasai. Sementara media lain hanya tinggal meng-’copy-paste’ saja, tinggal menyiarkan ulang ‘bulat-bulat’ apapun yang mereka terima, tanpa peduli apakah sebuah berita sesuai dengan realita atau bahkan sebaliknya sekedar rekayasa yang memang telah dirancang sedemikian rupa secara sengaja demi tujuan-tujuan tertentu.
Berhadapan dengan peristiwa khusus menyangkut dunia Islam, tujuan tertentu dimaksud hanya berarti satu : pada awalnya meredupkan, dan pada titik akhirnya mematikan cahaya Islam.
Demikianlah, grand design media-media Barat yang dirancang demikian rapi telah berdampak signifikan terhadap pembentukan persepsi dan opini publik tentang beragam isu dan peristiwa yang terjadi di dunia. Bahkan media lokal di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim sekalipun(seperti negara-negara Arab di Timur Tengah, Indonesia, Malaysia dan beberapa negara lain di Asia dan Asia Tenggara) berhadapan dengan kecanggihan rekayasa tersebut telah dibuat tak berdaya untuk bersikap independen dalam menentukan ‘warna’ mereka sendiri.
Kenyataan pahit plus ironis ini, sedikit banyak merupakan penyumbang besar bagi ‘pengkerdilan’ nyali dan ghirah Islam di tengah kaum Muslim, sehingga oleh sebab yang sama telah menjadi demikian inferior dan mati kutu di hadapan Barat. Padahal semua ‘kedigdayaan’ yang ditampakkan Barat tak lebih hanyalah kamuflase dan ‘power semu’ yang sengaja di-umbar untuk menakut-nakuti kaum Muslim.
Sungguh memprihatinkan, karena sejauh ini upaya Barat ini tampaknya berhasil. Meski naga-naganya era ini tak akan lagi bertahan dan merajalela dalam waktu lama. Karena ternyata, tak semua negara berpenduduk mayoritas Muslim itu hanya tinggal diam.
Meski tak banyak yang tahu(ini juga dampak dari perang media Barat vs Islam), ternyata masih ada satu negara yang sejak ikrar awalnya berpegang pada ideologi Islam, setelah hampir tiga puluh tahun, hingga kini tetap konsisten pada sikap yang sama.
Satu negara inilah yang telah mampu berkata ‘tidak!’ pada segala bentuk kesewenangan, kezaliman, dan ketidak-adilan terhadap peradaban dan nilai-nilai kemanusiaan yang dipertontonkan Barat(dengan AS, Zionis dan PBB sebagai poros penopang kekuatan tiran mereka).
Satu negara ini pula yang dalam waktu relatif singkat telah melakukan ‘lompatan besar’ prestasi dan kemajuan dalam berbagai bidang. Satu negara, yang istimewanya pula, dalam beragam pencapaian mencengangkan tersebut sama sekali lepas dari ketergantungan kepada pihak lain. Bahkan sebaliknya, derajat kemuliaan yang mereka raih di tengah pergaulan bangsa-bangsa, mampu mereka genggam erat meski dihantam tekanan beruntun Barat yang merasa jengah dengan mulai tumbuhnya akar kebangkitan dunia ketiga.
Kabar kebangkitan dunia ketiga, yang selama ini ‘tertindas’, tak pelak merupakan kabar baik yang ‘luar biasa’. Sebagai seseorang yang dengan sadar telah berikrar untuk menjadi insan merdeka, setelah masa pilu dan prihatin cukup lama, sungguh merupakan sengatan membahagiakan bagi tubuh dan jiwa ketika belakangan ini tersiar kabar yang merupakan realita : sebuah negara Republik Islam telah berhasil menorehkan prestasi luar biasa dalam bidang teknologi infokom yang ditandai dengan dilaunching-nya media online 24 jam non-stop berdaya jangkau siar ke seluruh dunia. Media itu bernama PressTV, dan negara Republik Islam yang telah mumpuni hampir dalam segala aspek kehidupan dan kemajuan itu, tidak lain adalah Iran. Negeri para Mullah yang dikenal gila demo dan keras kepala dalam penilaian para musuh Islam. Padahal sejatinya, inilah salah satu negeri Islam yang dihuni jutaan insan-insan merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Sebuah bangsa bermartabat yang tidak punya kecenderungan berlebih pada salah satu kutub ideologi, tidak Timur tidak pula Barat, tapi dengan tegas telah memilih Islam, sebuah pilihan tepat dan jalan tengah yang berimbang sebagai Way of Life ideal.
Harus diakui bahwa telah begitu banyak media lain serupa di seantero dunia, yang bahkan kelahirannya jauh sebelum PressTV ada. Namun yang membuat kelahiran media baru ini dapat dikategorikan sebagai langkah spektakuler, tak lain adalah posisi yang diembannya sebagai penyeimbang opini dunia. Khususnya persepsi tentang Islam yang sekian lama oleh media Barat pendukung AS dan rezim biadab Zionis, telah sengaja dirancang untuk menyesat-kaburkan opini penduduk dunia agar mereka mengenal hanya ’sisi gelap’ Islam sebagaimana yang diciptakan oleh media. Langkah penyesatan dengan tujuan utama menaburkan benih-benih kebencian terhadap Islam. Terhadap nilai-nilai suci kemanusiaan yang ada dalam ajaran-ajarannya.
Maka boleh dikata bahwa diluncurkannya PressTV oleh Iran, termasuk sebuah langkah berani yang bukan hanya didukung sarana dan prasarana memadai, namun juga ditopang gemuruh semangat juang yang tak mudah reda dalam dada insan-insan merdeka beriman teguh, terpimpin dan tercerahkan di negeri itu.
Tak berlebihan kiranya bila kita berharap bahwa inilah saatnya dominasi media Barat yang tak henti-hentinya selalu memojokkan Islam, segera dipatahkan. Agar upaya penyesatan massal itu tak lagi berkelanjutan tanpa ujung.
Dengan optimisme proporsional dapat kita katakan : boleh jadi inilah penanda dimulainya ‘era baru’ bagi insan-insan merdeka yang menghendaki peradaban mulia yang ditandai tegaknya kembali nilai-nilai suci ajaran Islam yang memang bersesuaian dengan fitrah insani.
New Era Insan Merdeka, telah bermula. Dan pada saat yang sama, kita dapat melihat bahwa perlahan tapi pasti, dominasi peradaban Barat yang menyalahi prinsip kemanusiaan dan keadilan, kian tenggelam dan tak populer di mata dunia.
Sungguh tepat perumpamaan yang dikemukakan oleh seorang bijak abad ini : ”Barat (AS, Zionis dan sekutunya) telah sampai pada detik-detik akhir Sakaratul-mautnya. Saat mana dengan segenap tenaga yang ada ‘menggelinjang penuh’ di detik-detik terakhir kehidupannya, karena setelah itu memang sudah tak akan bergerak lagi : diam, mati, dan terbujur kaku tanpa daya!.”

