Diarsipkan di bawah: Kembali
insan merdeka!,
Kehidupan berputar cepat. Kemajuan yang dicapai manusia dalam segala aspek kehidupan mereka, membuat perputaran itu menjadi kian cepat. Dalam sejenak, bila kita jeli mengindera ‘alam luar’, bekas yang akan tertanam di ‘alam dalam’ menjadi tak mudah terhitung banyaknya. Dalam ragam peristiwa yang silih berganti, sedih dan gembira menjadi bak debur ombak yang susul menyusul berirama.
Dalam waktu singkat, semua sepakat menjadikan ‘kecepatan’ sebagai salah satu unsur bernilai ‘lebih’ dalam kehidupan. Menjadikan manusia sulit berhenti walau sejenak, sekedar untuk mengatur nafas demi ‘perjalanan’ yang masih jauh harus ditempuh.
Hanya dikarenakan keterpanaan pada nilai kecepatan yang telah membuatnya lupa akan keterbatasan dan kemampuan manusiawinya yang mengenal ambang batas tertentu, manusia jadi ingin terus melaju tanpa henti. Dalam perlombaan ‘berlari’ ini, kata ‘perlahan’ menjadi hilang dari kamus kehidupan. Apalagi kata : sabar, tafakur, tuma’ninah, dan padanan sejenisnya, justeru menjadi kian asing di telinga, terlupa dan terabaikan dalam dunia keseharian kita. Semua terus terpacu untuk terus maju dalam ‘berlomba’, tak ada waktu kontemplasi, introspeksi maupun evaluasi. Apalagi harus mengingat mati.
Bagaimana halnya dengan insan merdeka?.
Mengingat mati bukanlah masalah yang harus dienggankan apalagi ditakuti. Bagi insan merdeka, kematian bukanlah suatu hal yang menakutkan. Sebagai suatu keniscayaan yang tak mungkin bisa dibantah datangnya bagi setiap apa dan siapapun yang hidup, kematian hanyalah satu hal biasa, diantara sekian banyak hal lainnya dalam perjalanan panjang yang penuh teka-teki ini. Misterinya pun tidaklah jauh beda dengan misteri lain yang takkan mampu kita ungkap, sebelum benar-benar tiba dan terjadi di hadapan kita.
Bagi insan merdeka, mengingat mati justeru adalah salah satu alternatif ‘jalan pembebasan’ dari sekian banyak ‘berhala’ dan ‘belenggu’ dalam hidup. Dengannya, setiap insan merdeka akan dapat menikmati kedamaian jiwa, terlepas dari ketakutan yang sebenarnya tak perlu.
Dengan mengingat mati, setiap insan merdeka akan mampu bersyukur akan nikmat hidup yang diamanahkan Allah baginya. Karena sejatinya, hidup adalah sarana dan jembatan yang harus dilalui dengan cara baik dan benar untuk menuju ke arah kematian. Sedang kematian sendiri, merupakan jalan yang wajib ditempuh untuk sampai pada ‘kehidupan’ yang sesungguhnya.
Ingat mati adalah sebuah lampu kuning bagi setiap insan merdeka yang hendak melangkah, sebelum lampu hijau menyala. Dan sekaligus juga lampu merah yang akan menghentikan langkah yang setiap saat berkemungkinan tergelincir ke arah yang salah. Ingat mati, adalah rambu dan alarm yang manfaatnya tak kalah dahsyat dibandingkan udara bagi kehidupan.
Kita akan terbebas dari sifat, sikap dan tingkah laku negatif dalam banyak hal pada saat menjalani hidup, bila kita ingat mati. Dengannya, kita akan mampu menjadi insan merdeka yang senantiasa berjalan di rel kebenaran. Terbebas dari polusi tinggi hati dan mau menang sendiri. Mampu tegar dan bersabar dalam derita fana saat ini, karena berharap ridha abadi di hari kemudian. Rela meneguhkan kesadaran bahwa yang kuasa memang hanya Dia Sang Khaliq, sementara dirinya hanyalah hamba yang faqir di belantara Kerajaan-Nya. Hal ini pula yang akan membebaskannya dari tirani thagut, beralih pada tali penghambaan kepada Allah. Beralih dari ketakutan semu pada penguasa semu, memunculkan keberanian melawan terhadap segala bentuk penindasan. Beranjak jauh dari para mustakbir untuk bersanding dekat dengan para mustadz’afin. Tegak di posisi musuh bagi musuh kebenaran, tak beranjak dari posisi pembela mereka yang ditindas.
Ingat mati adalah sarana jitu melepaskan belenggu hitam di seputar jalan kehidupan. Adalah peretas tuntas bagi semak keraguan menuju puncak penghambaan. Sebagaimana kematian adalah satu-satunya jalan bagi terlaksananya pertemuan yang memang sudah ditunggu-tunggu, maka ingat mati adalah penebar semangat bagi takdir pasti yang memang diharapkan akan datang.
