Diarsipkan di bawah: Hidup
insan merdeka!,
Tanyakan kepada semua yang pernah menjadi bayi pada mulanya. Walau mereka tak tahu dan sadar dengan pasti, tentu mereka semua pernah menangis saat pertama hadir ke dunia. Dengan tangis itu, mereka ‘bicara’. Di tangis itu, hilang semua perbedaan bahasa yang ada pada manusia. Di semua tempat, bahkan hingga kini, tangisan adalah salah satu bahasa universal yang unik dan ‘mandiri’, tak pernah berubah, dan tetap ‘original’. Demikian pula tak ubahnya tangis, manusia seluruhnya, pasti pernah tertawa. Dan tawapun adalah ‘bahasa’ universal yang dengan tegas menghilangkan perbedaan ras dan etnis, demikian pula negara dan bangsa. Tangis dan tawa adalah dua bahasa asli manusia dari dulu hingga kini. Dengannya manusia dapat hidup merdeka, dari permusuhan dan peperangan. Dengannya seharusnya manusia sadar, bahwa mereka semua berasal dari ‘pokok pohon’ yang satu.
Dengan kesadaran yang sama pula selayaknya manusia terhindar dari rasa enggan akan datangnya tangis dan tawa dalam hidup, yang silih berganti mengiringi setiap kejadian yang dialaminya. Dengan itu manusia selayaknya tetap mampu bertahan menjadi insan merdeka, membiarkan tangis dan tawa berlalu, sebagai ketentuan yang memang harus berlaku, demi kemaslahatan dirinya sebagai makhluk yang harus senantiasa terus menyempurna. Tangis dan tawa, adalah penempa dan pendorong manusia pada derajat merdeka yang sesungguhnya. Jadi, tak perlu takut, tetaplah bertahan. HIduplah merdeka diantara tangis dan tawa.
Belum Ada Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan sebuah tanggapan
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
