Diarsipkan di bawah: insan merdeka
insan merdeka!,
Mari terus belajar mengasah tajam pikiran dan meningkatkan kemampuan membaca dengan hati. Agar kita tahu, begitu banyak pesan Tuhan di kehidupan. Pesan unik yang seringkali bak lampu penerang jalan saat kita tak tahu arah kemana hendak menuju. Boleh jadi pesan-pesan yang bertebaran di atmosfir hidup kita itu merupakan kunci pembuka setiap ‘pintu’ yang tertutup dalam pandangan mata lahir, namun sebenarnya selalu terbuka dalam pandangan mata batin. Dan yakinlah, pintu-pintu terbuka ke jalan kebahagaiaan, memang tak pernah tertutup. Asal saja, mata hati kita cermat dan terlatih untuk melihatnya.
Pesan unik Tuhan adalah tanda-tanda yang bertebaran di segenap penjuru ruang dan waktu. Kadang berada dalam diri kita, kadang di alam luar. Semua ada sebagai wujud kasih sayang Tuhan untuk kita. Begitu banyaknya tanda-tanda itu, kita tak akan mampu menghitungnya. Karena kasih sayang Tuhan pun tiada batasnya.
Sungguh luar biasa pesan unik itu bekerja dalam kehidupan. Luar biasa dalam cara bagaimana dia datang. Setiap saat, tak pernah sama. Kadang berupa ’suara’ keheningan, kadang mewujud dalam simbol-simbol dan rupa. Tak terikat waktu, pagi-siang-malam, bisa kapan saja kemunculannya. Terutama saat kita merasa pasrah total kepada Tuhan, saat kita ‘mentok’ dan hilang nyali, saat kita lelah berharap kepada yang lain selainNya, saat pintu-pintu ‘biasa’ tertutup, maka pintu ‘luar biasa’ itupun terbukalah.
Pesan unik Tuhan ini telah banyak mencengangkan manusia. Darinya kadang terlahir apa yang sebelumnya tak ada, bahkan apa yang tak terpikirkan. Namun ketika sebagian kita ada yang mampu ‘menangkapnya’, maka ia pun memberikan kita rasa takjub tiada kira.
Sampai disini, adakah sesuatu yang sulit untuk dipahami?. Sabar saja, bila ada kemauan ‘berlatih’ lama-lama anda akan terbiasa juga. Hingga akhirnya membuat anda ’speechless’ dan ‘manggut-manggut’ seraya bergumam: oh begitu toh, maka itu sebagian dari tanda-tanda bahwa anda mulai bisa ‘masuk’ menyelam ke dunia ‘tanda dan pesan unik Tuhan’ itu. Saat itu, berbahagialah. Atau rasakan saja kebahagiaan dengan desir misteriusnya yang mengalir deras di sekujur tubuh. Tetaplah tenang, tahan diri untuk tak melonjak kegirangan. Bila anda mampu, maka otomatis kedua bibir anda yang semula terkatup akan mengembang perlahan. Dan bila tidak, mungkin saja anda akan tertawa terpingkal-pingkal sendiri. Ya, sendiri. Tak ada seorangpun, selain anda, yang tahu. Karena kebanyakan dari kita ‘terlena’, dan hanya sedikit saja yang senantiasa ‘terjaga’ tiap waktu.
Biar lebih mudah, mari saya antarkan anda ke ‘dunia lain’ itu. Dengan cara gampang, tinggal simak apa yang hendak saya share ke anda sebagian ‘cerita’ bertema pesan unik Tuhan, sebagaimana maksud judul tulisan ini. Siapa tahu, ini berguna buat kita semua.
Tahukah anda, bahwa dalam diri setiap anak kita, terbawa pesan unik Tuhan buat kita?. Karena kesibukan yang padat, mungkin selama ini anda tak punya waktu yang cukup untuk sekedar merenungkan, mencermati dan ‘melihat’ lebih dekat sang buah hati itu. Mengapa tak ada yang persis sama antara satu dengan yang lain?. Anda benar, karena mereka masing-masing, memang membawa pesan tersendiri. Bila sekarang anda sudah tahu, mulailah ‘perjalanan’ itu. Lambat laun anda akan menemukan banyak ‘jawaban’ mencengangkan. Sungguh indah, bila ‘rahasia tersembunyi’ itu telah terungkap. Bila benar terjadi, bersujudlah. Lantunkan syukur kepadaNya.
Diarsipkan di bawah: insan merdeka
insan merdeka!,
Enam hari lagi, kita semua akan sampai pada HUT kemerdekaan yang ke-62. Sebagaimana kelaziman yang berlaku selama ini, pada hari itu, tepatnya pada pukul 10 pagi, dalam waktu kurang lebih 5 menit, di seantero negeri ini akan diperdengarkan sirine dan bebunyian dengan aneka tingkat kebisingan berbeda sebagai tanda pengingat sebuah peristiwa yang kita kenal sebagai detik-detik proklamasi.
Dalam hari yang sama, di seluruh stasiun tv kita aka ditayangkan sebuah seremonial tahunan berupa upacara kenegaraan, dengan acara spesial pengibaran bendera negara pada pagi hari, dan penurunan bendera pada sore harinya.
Pada saat seperti inilah, setahun sekali kita semua diingatkan bahwa sudah sekian lamanya kita raih apa yang disebut banyak orang sebagai kemerdekaan, bebas dari belenggu penjajahan. Para tokoh, hingga orang biasa, ikut serta aktif berbicara tentang nilai-nilai nasionalisme dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya. Bagi kita, apa maknanya semua itu?
Ingatan kita tentang kemuliaan hidup merdeka, bila ternyata hanya sehari, sekali dalam setahun, alangkah minimnya. Sedang hari-hari lain selebihnya, kita terbelenggu oleh bermacam kesibukan yang membuat kita lupa, bagaimana selayaknya nilai kemerdekaan mampu kita terapkan dalam menjalani kehidupan.
Setengah abad lebih bukan waktu yang sebentar. Bagi manusia, rentang waktu yang demikian panjang akan membawanya pada sebuah fase ’senja’ bagi usianya. Dalam waktu yang tak lama, lewat titik setengah abad, rata-rata orang kita akan sampai pada batas akhir jatah hidup yang diberikan Tuhan. Dalam masa inilah biasanya tingkat ‘kematangan’ manusia ditampakkan oleh berlalunya perjalanan waktu. Apakah ia tergolong ‘awet muda’ ataukah tidak.
Kita semua biasanya akan merasa bangga jika suatu saat, pada usia lanjut, ada yang mengatakan bahwa kita ‘awet muda’. Bagi sebagian besar orang, awet muda tergolong sebuah kata yang enak didengar. Tentu saja karena setiap orang, sebaliknya tak pernah suka bila dirinya disebut sudah tua. Ada saja trik yang dipakai untuk menyamarkan ketuaan itu, misalnya dengan mengganti sebutan tua itu dengan istilah ‘matang’, ‘berumur’ dan sejenisnya. Namun dengan sebutan apapun, pada akhirnya ketuaan itu harus diakui dengan legawa tanpa menggantinya dengan istilah yang tampak manis. Sebaliknya kita harus introspeksi diri bila setiap kita ketemu dengan banyak orang yang kita kenal, kita dijuluki sebagai manusia yang awet muda. Bisa jadi, kata ini bermakna ganda. Sebuah kata bersayap yang bisa berarti bahwa orang yang awet muda itu tak ubahnya anak kecil yang tak pernah beranjak dewasa. Tak kunjung matang pikirnya, tak jua arif jiwanya.
Jadi, boleh saja kita merdeka sejak 62 tahun yang lalu. Namun, sudah merdekakah kita sepanjang waktu itu?
Bila masih banyak ‘rantai pengikat’ di tangan dan kaki kita, di hati dan pikiran kita dalam kehidupan yang kita jalani ini, sekali waktu bertanyalah kepada diri sendiri : nilai mulia kemerdekaan macam apa yang sudah kita raih?
Diarsipkan di bawah: insan merdeka
insan merdeka!,
Kita semua tak ada yang tahu dengan pasti, kapan tepatnya kita akan kembali pulang kepadaNya. Disini, saat ini, kita semua menunggu sembari berbuat apapun yang kita mau. Dalam penantian ini, kita semua menghabiskan jatah waktu dengan ‘menanam’, karena tidak bisa tidak, kelak kita berharap untuk dapat ‘memanen’. Dunia layaknya bank tempat kita menyimpan, yang hanya akan memberi kita ijin untuk menarik dengan persis sejumlah nominal yang pernah kita tabung, tidak lebih, tidak pula kurang. Di dalam perjalanan panjang/pendek ini, kita mengukir jejak langkah kita, mematri baik-buruk di batu marmer kehidupan kita sendiri-sendiri. Apakah marmer kehidupan kita akan berkilau gemerlap dengan hiasan warna-warni bak lukisan maestro yang kental dengan nuansa keindahan dan estetika, ataukah marmer kehidupan yang kita punya sudah penuh dengan retakan, hampir pecah dan tak utuh lagi, sedang di permukaannya pun diselimuti dominasi warna gelap pekat, tak ubahnya warna alami batu kali?. Semua tergantung diri kita sendiri, sepenuhnya adalah tanggung jawab kita.
Sempatkanlah walau sesekali, meluangkan waktu untuk merenungkan kembali perjalanan yang telah berhasil kita tempuh hingga kini. Ibarat seorang peserta sebuah lomba pendakian perorangan ke puncak tertinggi sebuah gunung, dengan tebing curam dan terjal, paling tidak kita sudah dapat menghitung berapa kali kita terpeleset, terjun ‘melorot’ kembali ke titik awal. Atau paling tidak, kita juga tahu di titik manakah posisi kita berada saat ini, berapa langkah lagi jarak ke atas yang harus kita daki, dan yang tak kalah penting, kita mesti dapat mengukur seberapa fit kondisi stamina kita untuk mencapai titik puncak, batas terakhir dari pendakian kita.
Keberhasilan kita menaklukkan sekian banyak puncak tertinggi dalam kehidupan, pasti memberikan segudang pengalaman berharga kepada kita tentang berbagai hal. Keberhasilan tertunda [kata yang lebih disukai oleh insan merdeka dalam memaknai 'kegagalan'] yang seringkali kita alami, mengajarkan kepada kita berbagai formula yang lebih efektif dan efisien dalam menempuh berbagai tujuan di masa mendatang. Tidak salah kiranya bila ada yang mengatakan bahwa ketika kita mengalami apa yang biasa dipahami orang sebagai ‘kegagalan’, sesungguhnya pada saat itulah Tuhan mengajarkan dan sekaligus menunjukkan kepada kita rambu pengingat agar kita tahu dan sadar, bahwa sebenarnya kita sudah salah jalan. Karena bila kita sudah berada di jalan yang ‘benar’ dan ‘tepat’, dalam setiap menempuh segala tujuan, mestinya hanya keberhasilan pastilah yang akan kita raih.
Melukis jejak hidup kita, adalah sebuah perjuangan. Dalam prosesnya kita selayaknya lebih sering instropeksi dan mengevaluasi diri. Buatlah jejak hidup yang indah, bertanyalah kepada diri sendiri : dengan keberadaan kita, bagaimanakah warna dunia di sekeliling kita?. Jadilah penerang bagi mereka yang tengah berada dalam kubangan kegelapan. Perkuatlah selalu pancaran ’sinar’ kita untuk menularkan cahaya ke berbagai titik penjuru. Asahlah kalbu kita agar mampu meredam gejolak panas aneka nafsu tak berguna. Jadikan jejak hidup kita, manis dirasa, indah untuk dikenang. Jadikan jejak hidup insan merdeka, sebagai penunjuk arah yang pasti, suluh yang menerangi, dan teladan yang utama bagi para penempuh jalan yang lain, yang masih hendak menyusul kemudian. Agar dengan itu semua, kita mampu tersenyum dan merasa lega karena telah menunaikan amanah agung berupa karunia hidup ini dengan sebaik-baiknya. Agar kita senantiasa berkesiapan optimal jika sewaktu-waktu Tuhan menghendaki kita kembali ke haribaanNya. Tentu saja dengan ridha dan diridhaiNya.
Diarsipkan di bawah: Hidup
Bila
Kuingin begini
Terjadi begitu
Kuingin begitu
Terjadi begini
Kuingin terjadi
Tak terjadi
Kuingin hindari
Menghampiriku
Kuharap banyak
Datang sedikit
Kuingin sedikit
Datang banyak
Bak mendung tanpa hujan
Bak siang terik diiring gerimis
Terlukis gurat pelangi
Ternyata memang
Lebih indah mau-Mu
Andai kutahu selalu
Tak perlu tersipu
Berulangkali
Diarsipkan di bawah: insan merdeka
insan merdeka!,
Dengan bumi dan matahari yang sama, waktu berjalan terasa kian cepat. Entah memang demikiankah adanya, atau itu semua hanya perasaan kita saja.
Hari ini, tanpa begitu terasa, tahu-tahu sudah awal bulan yang baru. Meski corak hidup secara umum tak secara drastis berbalik warna, tetap saja selalu ada yang baru. Ada masalah-masalah yang satu demi satu mulai dapat diselesaikan. Meski, tentu saja sebagaimana biasa, terkadang dengan berlalunya masalah lama, muncul lagi masalah yang baru. Pun, biasanya seringkali tak terduga sebelumnya. Sedikit-banyak seakan serba berunsur ‘misteri’.
Bagaimana menghadapi kejutan-kejutan beruntun dalam hidup kita secara bijaksana?. Tanpa shock yang tak perlu, sebaliknya bahkan dengan senyuman dan tenang hati?. Semuanya kembali kepada diri kita sendiri. Selama dalam hidup ini kita mampu tersenyum dengan penuh rasa syukur akan nikmat-nikmat kecil yang bertebaran tak terhitung banyaknya, maka kita akan mampu merasakan nikmat karunia besar dibalik misteri setiap peristiwa. Selama kita tetap mampu bertahan pada keyakinan bahwa semua yang Tuhan berikan untuk kita sudah pasti adalah yang terbaik, maka hati kita akan diselimuti kedamaian tanpa protes keras dan keluh kesah yang naif. Hingga apapun warna kehidupan yang datang di hadapan kita, semuanya sudah pasti layak untuk terus kita jalani.
Begitu banyak hal yang dapat kita bagi dengan sesama. Hampir dalam segala hal, bila kita mampu berlapang hati, akan dapat kita bagi dengan siapapun. Hal-hal yang besar maupun kecil. Semuanya serba bermakna. Tak pernah ada yang sia-sia. Dalam perjalanan ke satu tujuan yang sama ini, senyampang belum sampai ke titik akhirnya, kita semua dapat saling memberikan petunjuk arah. Kita semua, saat ini, sedang berada dalam barisan yang sama. Apapun warna bendera yang kita ikatkan pada tiang penanda yang kita bawa, apapun bentuknya panji-panji yang kita usung, dalam langkah apapun kita bergerak, maka sesungguhnya kita sedang bergerak ke satu tujuan yang pasti. Laksana kawan seiring dalam perjalanan panjang ini, kita selayaknya bahu-membahu dalam bingkai dan ikatan kasih-sayang penuh kelembutan, terus maju, berjuang dalam satu kehendak dan keyakinan. Hingga ke titik terakhir tempat kita semua akan berlabuh.
Walau sebenarnya genderang yang kita tabuh dalam kalbu jauh berbeda irama, dalam hening tanpa kata, dalam barisan yang terus bergerak maju tanpa henti, kita akan dapat merasakan simponi indah dan getar dawai kehidupan yang setara, sama hangatnya, sama merdunya. Karena segumpal daging yang ada di masing-masing rongga dada kita, berasal dari yang Satu. Demikian pula halnya, setiap akal yang memandu.
Segala hal yang di luar, boleh berubah. Namun kita akan tetap sama, sebagaimana awalnya, teguh dalam menempuh jalan ini: jalan insan merdeka.


