Diarsipkan di bawah: insan merdeka
insan merdeka!,
Enam hari lagi, kita semua akan sampai pada HUT kemerdekaan yang ke-62. Sebagaimana kelaziman yang berlaku selama ini, pada hari itu, tepatnya pada pukul 10 pagi, dalam waktu kurang lebih 5 menit, di seantero negeri ini akan diperdengarkan sirine dan bebunyian dengan aneka tingkat kebisingan berbeda sebagai tanda pengingat sebuah peristiwa yang kita kenal sebagai detik-detik proklamasi.
Dalam hari yang sama, di seluruh stasiun tv kita aka ditayangkan sebuah seremonial tahunan berupa upacara kenegaraan, dengan acara spesial pengibaran bendera negara pada pagi hari, dan penurunan bendera pada sore harinya.
Pada saat seperti inilah, setahun sekali kita semua diingatkan bahwa sudah sekian lamanya kita raih apa yang disebut banyak orang sebagai kemerdekaan, bebas dari belenggu penjajahan. Para tokoh, hingga orang biasa, ikut serta aktif berbicara tentang nilai-nilai nasionalisme dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya. Bagi kita, apa maknanya semua itu?
Ingatan kita tentang kemuliaan hidup merdeka, bila ternyata hanya sehari, sekali dalam setahun, alangkah minimnya. Sedang hari-hari lain selebihnya, kita terbelenggu oleh bermacam kesibukan yang membuat kita lupa, bagaimana selayaknya nilai kemerdekaan mampu kita terapkan dalam menjalani kehidupan.
Setengah abad lebih bukan waktu yang sebentar. Bagi manusia, rentang waktu yang demikian panjang akan membawanya pada sebuah fase ’senja’ bagi usianya. Dalam waktu yang tak lama, lewat titik setengah abad, rata-rata orang kita akan sampai pada batas akhir jatah hidup yang diberikan Tuhan. Dalam masa inilah biasanya tingkat ‘kematangan’ manusia ditampakkan oleh berlalunya perjalanan waktu. Apakah ia tergolong ‘awet muda’ ataukah tidak.
Kita semua biasanya akan merasa bangga jika suatu saat, pada usia lanjut, ada yang mengatakan bahwa kita ‘awet muda’. Bagi sebagian besar orang, awet muda tergolong sebuah kata yang enak didengar. Tentu saja karena setiap orang, sebaliknya tak pernah suka bila dirinya disebut sudah tua. Ada saja trik yang dipakai untuk menyamarkan ketuaan itu, misalnya dengan mengganti sebutan tua itu dengan istilah ‘matang’, ‘berumur’ dan sejenisnya. Namun dengan sebutan apapun, pada akhirnya ketuaan itu harus diakui dengan legawa tanpa menggantinya dengan istilah yang tampak manis. Sebaliknya kita harus introspeksi diri bila setiap kita ketemu dengan banyak orang yang kita kenal, kita dijuluki sebagai manusia yang awet muda. Bisa jadi, kata ini bermakna ganda. Sebuah kata bersayap yang bisa berarti bahwa orang yang awet muda itu tak ubahnya anak kecil yang tak pernah beranjak dewasa. Tak kunjung matang pikirnya, tak jua arif jiwanya.
Jadi, boleh saja kita merdeka sejak 62 tahun yang lalu. Namun, sudah merdekakah kita sepanjang waktu itu?
Bila masih banyak ‘rantai pengikat’ di tangan dan kaki kita, di hati dan pikiran kita dalam kehidupan yang kita jalani ini, sekali waktu bertanyalah kepada diri sendiri : nilai mulia kemerdekaan macam apa yang sudah kita raih?
Belum Ada Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>