Diarsipkan di bawah: Hidup
Bila
Kuingin begini
Terjadi begitu
Kuingin begitu
Terjadi begini
Kuingin terjadi
Tak terjadi
Kuingin hindari
Menghampiriku
Kuharap banyak
Datang sedikit
Kuingin sedikit
Datang banyak
Bak mendung tanpa hujan
Bak siang terik diiring gerimis
Terlukis gurat pelangi
Ternyata memang
Lebih indah mau-Mu
Andai kutahu selalu
Tak perlu tersipu
Berulangkali
Diarsipkan di bawah: insan merdeka
insan merdeka!,
Dengan bumi dan matahari yang sama, waktu berjalan terasa kian cepat. Entah memang demikiankah adanya, atau itu semua hanya perasaan kita saja.
Hari ini, tanpa begitu terasa, tahu-tahu sudah awal bulan yang baru. Meski corak hidup secara umum tak secara drastis berbalik warna, tetap saja selalu ada yang baru. Ada masalah-masalah yang satu demi satu mulai dapat diselesaikan. Meski, tentu saja sebagaimana biasa, terkadang dengan berlalunya masalah lama, muncul lagi masalah yang baru. Pun, biasanya seringkali tak terduga sebelumnya. Sedikit-banyak seakan serba berunsur ‘misteri’.
Bagaimana menghadapi kejutan-kejutan beruntun dalam hidup kita secara bijaksana?. Tanpa shock yang tak perlu, sebaliknya bahkan dengan senyuman dan tenang hati?. Semuanya kembali kepada diri kita sendiri. Selama dalam hidup ini kita mampu tersenyum dengan penuh rasa syukur akan nikmat-nikmat kecil yang bertebaran tak terhitung banyaknya, maka kita akan mampu merasakan nikmat karunia besar dibalik misteri setiap peristiwa. Selama kita tetap mampu bertahan pada keyakinan bahwa semua yang Tuhan berikan untuk kita sudah pasti adalah yang terbaik, maka hati kita akan diselimuti kedamaian tanpa protes keras dan keluh kesah yang naif. Hingga apapun warna kehidupan yang datang di hadapan kita, semuanya sudah pasti layak untuk terus kita jalani.
Begitu banyak hal yang dapat kita bagi dengan sesama. Hampir dalam segala hal, bila kita mampu berlapang hati, akan dapat kita bagi dengan siapapun. Hal-hal yang besar maupun kecil. Semuanya serba bermakna. Tak pernah ada yang sia-sia. Dalam perjalanan ke satu tujuan yang sama ini, senyampang belum sampai ke titik akhirnya, kita semua dapat saling memberikan petunjuk arah. Kita semua, saat ini, sedang berada dalam barisan yang sama. Apapun warna bendera yang kita ikatkan pada tiang penanda yang kita bawa, apapun bentuknya panji-panji yang kita usung, dalam langkah apapun kita bergerak, maka sesungguhnya kita sedang bergerak ke satu tujuan yang pasti. Laksana kawan seiring dalam perjalanan panjang ini, kita selayaknya bahu-membahu dalam bingkai dan ikatan kasih-sayang penuh kelembutan, terus maju, berjuang dalam satu kehendak dan keyakinan. Hingga ke titik terakhir tempat kita semua akan berlabuh.
Walau sebenarnya genderang yang kita tabuh dalam kalbu jauh berbeda irama, dalam hening tanpa kata, dalam barisan yang terus bergerak maju tanpa henti, kita akan dapat merasakan simponi indah dan getar dawai kehidupan yang setara, sama hangatnya, sama merdunya. Karena segumpal daging yang ada di masing-masing rongga dada kita, berasal dari yang Satu. Demikian pula halnya, setiap akal yang memandu.
Segala hal yang di luar, boleh berubah. Namun kita akan tetap sama, sebagaimana awalnya, teguh dalam menempuh jalan ini: jalan insan merdeka.
Diarsipkan di bawah: Hidup
insan merdeka!,
Tanyakan kepada semua yang pernah menjadi bayi pada mulanya. Walau mereka tak tahu dan sadar dengan pasti, tentu mereka semua pernah menangis saat pertama hadir ke dunia. Dengan tangis itu, mereka ‘bicara’. Di tangis itu, hilang semua perbedaan bahasa yang ada pada manusia. Di semua tempat, bahkan hingga kini, tangisan adalah salah satu bahasa universal yang unik dan ‘mandiri’, tak pernah berubah, dan tetap ‘original’. Demikian pula tak ubahnya tangis, manusia seluruhnya, pasti pernah tertawa. Dan tawapun adalah ‘bahasa’ universal yang dengan tegas menghilangkan perbedaan ras dan etnis, demikian pula negara dan bangsa. Tangis dan tawa adalah dua bahasa asli manusia dari dulu hingga kini. Dengannya manusia dapat hidup merdeka, dari permusuhan dan peperangan. Dengannya seharusnya manusia sadar, bahwa mereka semua berasal dari ‘pokok pohon’ yang satu.
Dengan kesadaran yang sama pula selayaknya manusia terhindar dari rasa enggan akan datangnya tangis dan tawa dalam hidup, yang silih berganti mengiringi setiap kejadian yang dialaminya. Dengan itu manusia selayaknya tetap mampu bertahan menjadi insan merdeka, membiarkan tangis dan tawa berlalu, sebagai ketentuan yang memang harus berlaku, demi kemaslahatan dirinya sebagai makhluk yang harus senantiasa terus menyempurna. Tangis dan tawa, adalah penempa dan pendorong manusia pada derajat merdeka yang sesungguhnya. Jadi, tak perlu takut, tetaplah bertahan. HIduplah merdeka diantara tangis dan tawa.
Diarsipkan di bawah: insan merdeka
insan merdeka!,
Belajar bersama menyelam ke dalam hati kita masing-masing, adalah sesuatu yang indah dan -sekaligus- perlu. Mengapa?
Karena -siapa tahu- di sanalah diri kita yang sebenarnya berada. Bukan di wajah, dengan mata biru, alis lengkung tebal, hidung mancung dan bibir indah. Diri kita bukanlah di tubuh atletis, dengan dada bidang dan perut ala kontes l-men. Bukan pula di betis berisi, rambut kemilau terurai. Pendeknya, diri kita itu bukan semata apa yang bisa dilihat dan dinikmati mata.
Tidakkah kita sama-sama setuju?
Diarsipkan di bawah: insan merdeka
insan merdeka!,
Malam cerah, meski tanpa banyak bintang. Bulan sabit sempurna di ketinggian langit nampak berwarna putih keperakan. Dalam hening, cahaya teduhnya melengkapi senyap suasana. Ya Allah, kini kita hanya berdua. Dalam kesendirianku, aku bersama-Mu, tak pernah ‘benar-benar sendiri’.
Udara yang dingin menusuk, memaksaku segera masuk, tinggalkan pelataran yang lengang. Bersiap ‘menghadap-Nya’. Entah berapa lama tepatnya. Namun hitunglah lama ‘mi’raj ruhani’ tanpa wirid dan do’a panjang setelahnya. Rasanya tak sampai 15 menit lamanya.
Saat kembali ke luar, semua tak nampak sama lagi. Ada sesuatu yang tadi terlihat, kini sudah tak nampak lagi. Bulan sabit itu, entah kemana perginya. Dalam tempo sesingkat itu, bumi [di belahan tempatku berpijak] kehilangan cahaya teduhnya.
Dalam diam, hati bergumam : adakah yang berlangsung lama di dunia kita?. Segalanya terjadi dalam hitungan pendek. Jarak antara ada-tiada, datang dan pergi, begitu singkat masanya. Tak ubahnya tidur, yang tak terasa. Tiba-tiba kita terbangun, melihat segalanya sudah tak sama lagi adanya.
Dalam masa sesingkat ini, apa yang sudah kita lakukan?. Dengan cara apa kita tandai ‘kehadiran’ unik kita di bumi manusia ini?
Janganlah remehkan waktu yang berlalu dengan cepat. Bila tak sekalipun terpikir oleh kita untuk senantiasa hidup ‘berguna’, maka jangan salahkan bila di ‘dunia lain’ kelak, kita akan kebingungan arah, terlantar dalam derita, tanpa punya ‘rumah’ yang layak untuk kita tempati, dalam masa yang tentu saja tak sesingkat kini.




